Komisi III Diminta Panggil Kapolri Pertanyakan SOP soal Gerebek Narkoba & Geledah di DPR

Kriminal245 Dilihat

Beritaasatu – Indonesia Police Watch (IPW) meminta Komisi III untuk segera memanggil Kapolri guna mempertanyakan bagaimana sebenarnya SOP Kepolisian dan bagaimana konsistensi penerapannya di lapangan oleh aparat kepolisian itu sendiri. Hal itu terkait insiden penggeledahan bandar narkoba di Berlan Jakarta Timur yang berujung pada penggeroyokan aparat Kepolisian dari Satuan Narkoba Polsek Metro Senen, Jakarta Pusat.

Ketua Presidium IPW Neta S Pane
Ketua Presidium IPW Neta S Pane

“Pertanyaan ini penting dilakukan agar ada kejelasan, kenapa saat melakukan penggeledaan ke gedung DPR aparat kepolisian bersenjata lengkap seakan hendak perang, sementara saat menggeledah sarang narkoba tanpa bersenjata lengkap,” ungkap Ketua Presidium IPW Neta S Pane, Kamis (21/1/2016).

Akibatnya, kata Neta, tiga polisi yang dikeroyok massa dalam penggeledaan sarang narkoba tersebut dan lebih parahnya satu polisi tewas dibuang ke sungai dan dua luka-luka dibacok massa.

Menurut Neta, kasus Berlan menunjukkan polisi tidak konsisten dengan SOP yang dibuatnya sendiri. Polisi membuat opini di masyarakat seolah-olah Gedung DPR lebih berbahaya ketimbang sarang narkoba. Padahal, lanjut Neta, seharusnya sebagai aparat penegak hukum polisi ikut serta menjaga kewibawaan lembaga legislatif itu dan bukan melecehkan dengan membawa bawa senjata lengkap saat melakukan penggeledaan.

“Jika Polri beralasan membawa senjata lengkap ke gedung DPR sudah sesuai dengan SOP tapi kenapa saat menggeledah sarang narkoba Polisi tidak menggunakan senjata lengkap,” tuturnya.

Akibat tidak jelasnya sikap Polri menyikapi SOP nya itu, sambung Neta, tragedi demi tragedi dialami polisi saat hendak menangkap pelaku kejahatan. Ada yang luka, ada yang tewas dan ada yang dikeroyok warga.

“Tragedi ini tentu membuat kita prihatin. Apalagi jika tragedi pengeroyokan yang membuat polisi tewas dan luka itu terjadi di Jakarta sebagai Ibukota,” ucapnya.

Selain itu, tambah Neta, publik pun mempertanyakan profesionalisme Polri. Kenapa anggotanya bisa luka-luka dan tewas saat hendak menangkap bandar narkoba. Dimana senjata polisi waktu itu? Kenapa saat hendak melakukan penggeledahan gedung DPR, polisi bersenjata lengkap tapi saat menggerebek sarang narkoba tidak bersenjata lengkap.

“Apakah gedung DPR lebih berbahaya ketimbang sarang narkoba? Tewas dan luka-lukanya polisi dalam penggerebekan itu akibat tidak konsistennya polisi dalam menerapkan SOP di lapangan sehingga mereka menjadi korban kecerobohannya sendiri,” beber dia.

Neta melanjutkan, kasus ini menunjukkan buruknya koordinasi di Kepolisian antara Intelijen dengan Reserse. Tanpa info lengkap dari Intelijen, tentang situasi dan kondisi di TKP, Reserse main sergap. Akibatnya saat warga melakukan perlawanan ketiga polisi itu kaget dan menjadi korban. Kasus ini juga menunjukkan betapa tidak terlatihnya Polisi saat ini padahal mereka tugas di Ibukota, akibatnya mereka menjadi bulan-bulanan warga.

“Bagaimana pun kasus ini harus menjadi pelajaran yang berharga bagi Polri untuk berbenah, introspeksi dan memperbaki kinerja profesionalnya. Untuk itulah Komisi III perlu memanggil Kapolri mempertanyaakn penerapan SOP Kepolisian. Jangan sampai ketika dikritik bergaya Cakrabirawa, Polri berlindung di balik SOP nya. Tapi ketika Polisi tewas dan luka-luka dalam penggerebekan ternyata polisi menggabaikan SOP nya,” pungkasnya.

Komentar