Beritaasatu – Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak membeberkan empat poin perihal hasil publik otopsi kematian Siyono yang digelar oleh dokter forensik Muhammadiyah.
Poin pertama, Dahnil membantah pernyataan Polri yang menyebut telah melakukan otopsi terlebih dahulu sebelumnya. Justru Dahnil menegaskan tidaklah benar jika sudah dilakukan otopsi sebelumnya.
“Otopsi yang diketahui dilakukan Dokter forensik Muhammadiyah yakni Dr. Gatot adalah otopsi yang pertama dilakukan,” tegas Dahnil, di Komnas Ham, Jakarta, Senin (11/4/2016).
Poin berikutnya, kata Dahnil, tidaklah betul juga ada indikasi kematian disebabkan pendarahan yang hebat dikepala. Dahnil merasa aneh jika polisi bilang ada pendarahan dikepala.
“Padahal Dokter Muhammadiyah telah membuat kesimpulan ditemukan penyebab pendarahan hebat, patah tulang dibeberapa tubuh,” ucapnya.
Selain itu, Dahnil mengatakan tidak ditemukannya indikasi perlawanan dari korban Siyono. Misalnya tidak ada luka tangkis membentuk perlawanan.
“Itu adalah poin penting dan sebagai bantahan apa yang disampaikan untuk Densus 88,” pungkasnya.



Komentar