SC KPP-PRD : SETELAH 5 TAHUN INTERNALISASI

Opini218 Dilihat

PRD 1beritaasatu.com Partai Rakyat Demokratik (PRD) akan mnyelenggarakan kongresnya yg ke VIII di Jkt. Berbagai pesiapan telah dilakukan oleh KPP PRD ini demi suksesnya Kongres tsb, salah satunya dgn mmbentuk Steering Committee (SC) yg diketuai Dominggus Oktavianus (Sekjen PRD) dan Alif Kamal sbg Sekretaris yg juga Ketua Kongres VIII. SC ini telah mnyusun materi sbg bahan pembahasan dlm Kongres dan utk mmberikan gambaran tentang kekurangan atau kelemahan serta kelebihan atau kekuatan partai.

Dlm pengantar materi tsb antara lain dibahas ttg pengorganisasian pemikiran, tekad, cita2 dan tindakan politik. Hal ini mnjdi penting karena proses utk mncapai kesatuan pemhaman ternyata bukanlah hal mudah karena dihadapkan dgn beragamnya latar belakang pengetahuan dan pengalaman kader maupun anggota PRD. Diawal berdirinya PRD tahun 1996-1998 relatif solid dlm mmandang situasi obyektif yg disimpulkan sbg kediktatoran militer kapitalistik. Akan tetapi ketika Orba jatuh mindset trhdp persoalan tdk serta merta berubah, bahkan mmunculkan kerancuan berfikir dan sulitnya mncapai titik temu. Banyak kader mninggalkan partai, struktur organisasi rontok dan pamor partai mnjdi jatuh menukik.

Dlm kongres ke VII PRD thn 2010, telah dihasilkan keputusan2 penting antara lain perubahan azas partai dari Sosial Demokrasi Kerakyatan mnjdi Pancasila, pembacaan politik lebih fokus pd anti imprialisme dgn persatuan nasional sbg strateginya dan organisasi dari bentuk tertutup mnjadi terbuka. Dlm 18 tahun perjalanan PRD maka 5 tahun terakhir ini sbg perjalanan utk perubahan gagasan dan konsep ditingkat internal, atau disebut internalisasi atas perubahan idiologi, politik dan organisasi.
Ketika azas partai dirubah mnjdi pancasila banyak pertanyaan bermunculan baik di internal maupun eksternal partai. Internalisasi idiologi Pancasila pada awalnya oleh sbagian kader dianggap sbg langkah taktis utk mnghilangkan stigmatisasi komunis. Padahal Pancasila dapat dijadikan pandangan, sistem dan landasan berfikir dlm perjuangan melawan imprialisme.  Pancasila tdk dilihat sesempit gambaran Orde, karena dlm Pancasila ditemukan dan dikembangkan konsep2 seperti Trisakti, Manipolusdek, Resopim, pasal 33 UUD 1945, Dekon, Koperasi dll.
Imprialisme skarang sdh dianggap sbg persoalan yg sedang dihadapi bangsa ini. Hal ini terbukti dlm Pilpres 2014 yg lalu dimana masing2 Capres berupaya mngemukakan visi kemandirian nasional utk mndapatkan dukungan rakyat.
Setelah 5 tahun melakukan intenalisasi maka kini PRD melakukan eksternalisasi, melakukan ekspansi dan hadir secara terang benderang ditengah2 rakyat.

Alif Kamal menambahkan bahwa PRD dlm mngembalikan pancasila sbg azas berbangsa dan bernegara bukanlah main-main. Selain itu karena skrang PRD betubah mnjdi partai tebuka maka dalam Kongres ke VIII tgl 24 sd 26 Maret 2015 akan dilaksanakan secara terbuka, bahkan pihaknya jga akan mngundang perwakilan dari KMP dan KIH, pejabat pemrintah, petinggi TNI/Polri, tokoh politik, akademisi dll. Ini sejarah baru dlm PRD dimana sebelumnya dlm melakukan kegiatan trmasuk Kongres selalu tertutup. Bahkan dianjurkan kpd seluruh kader dan anggota agar mngibarkan Bendera PRD dilngkunganya masing2. Dlm Kongres ini pihaknya tdk meributkan calon Ketum yg baru tetpi lebih fokus pd konsolidasi idiologi, plitik dan organisasi.

Alif Kamal

Komentar