Teknologi Pikiran Delusi

Opini24 Dilihat

Teknologi Pikiran Delusi adalah paradigma sains yang berangkat dari falsafah idealisme, yaitu bagaimana caranya pikiran mampu merubah dan menggerakkan materi bahkan melengkungkan ruang dan waktu.

Judul di atas tentu akan memunculkan tanda tanya, kritik bahkan mungkin cemoohan yang tidak sedikit. Bagaimana tidak, teknologi sebagai bagian dari ilmu pengetahuan disandingkan dengan sesuatu yang sudah dianggap palsu dan tidak sesuai dengan realitas. Delusi memang berisi dengan pikiran manipulatif yang tidak sesuai kenyataan. Musuh dari kewarasan dan kuman yang memperlemah peradaban dan kemajuan. Delusi bertentangan dengan fakta dan semangat ilmu pengetahuan. Lalu apa maksud dari judul di atas?

Delusi atau waham oleh Psikiatri dikategorikan sebagai pikiran yang tidak sesuai dengan kenyataan dunia luar. Pikiran ini menjadi ciri orang-orang yang dianggap memiliki gangguan mental. Ada banyak macam delusi, semisal waham kebesaran (delusion of grandiosity), delusion of influence, delusion of withdrawl, delusion of control, dan sebagainya. Salah satu bentuk lain yang menyertai delusi di atas adalah halusinasi auditorik, yang menjadikan syarat lengkap untuk mengubah manusia biasa menjadi seorang nabi, wali, sufi, mistikus, spiritualis, dukun dan jenis manusia tak waras lainnya. Saya hanya membatasi jenis waham kebesaran saja secara singkat sebagai pembahasan yang berkenaan dengan judul di atas.

Orang yang mengalami waham kebesaran akan merasakan pikirannya sangat kuat dan maha kuasa. Ia merasakan dirinya menjadi pusat gravitasi sejarah. Titik singular jagat raya. Ketika ia berjalan, seolah alam raya lenyap ke dalam dirinya. Ia begitu eksis. Apa yang dipikirkannya seolah pasti terwujud di dunia luar. Manusia dengan waham kebesaran merasakan dirinya disentuh oleh kekuatan maha dahsyat yang membuat mereka sering menafsirkan diri sedang dipengaruhi tuhan, ditunjuk menjadi utusannya atau yang lebih ringan sedang mendapatkan wahyu dan wangsit gaib-rahasia. Sebenarnya ini bukanlah pemahaman rahasia, hanya ditabukan untuk dibahas dan disebarluaskan, karena menyentuh dan menyerang ketidakwarasan dan kebohongan agama-agama dan para nabinya.

Ada sesuatu yang menarik dari fenomena di atas. Isi dari waham kebesaran memang manipulatif dan tidak sesuai dengan realitas, tapi bentuk, ingat bentuk (form) dari delusi ini betul-betul nyata. Hal inilah yang membuat orang yang merasakan bentuk kekuatan delusi, tenggelam kesadarannya dan mau tidak mau memaksa mereka untuk mengakui bahwa mereka memiliki kekuatan dahsyat. Karena memang mereka merasakannya secara riil dan nyata. Muncullah nabi dan kawan-kawannya.

Bentuk kekuatan delusi ternyata bersifat magis, yaitu berusaha memengaruhi kenyataan dunia luar dengan pikirannya yang dirasa sangat dahsyat. Tapi, kegiatan ini selalu gagal dan tidak pernah terwujud. Yang mengherankan, orang tersebut sudah tahu kalau aktivasi magisnya gagal di dunia luar tapi ia masih meyakini bahwa dirinya maha kuasa. Ya, karena ia terus menerus merasakan kekuatan delusi yang dahsyat itu tapi selalu gagal dalam mewujudkannya di dunia luar. Ada orang dengan waham kebesaran berusaha mengangkat batu dengan pikirannya dari jarak jauh dan ia tidak pernah berhasil, ia pun sadar itu, tapi kenapa ia masih merasa maha kuasa dengan pikirannya? Ya. Meskipun pikiran dahsyatnya gagal berfungsi di dunia luar, tapi ia masih terus bersemayam dalam kepalanya sehingga ia selalu menganggap dirinya maha kuasa dan kuat, meskipun kekuatannya gagal diaktualisasikan di dunia luar. Itulah ciri delusi yang tidak bisa diusir dengan mudah dari pikiran manusia, meski ia sangat cerdas sekalipun.

Bentuk kekuatan delusi yang dirasakan nyata tapi gagal difungsikan di dunia luar mengindikasikan bahwa ia merupakan semacam potensi yang sangat lemah sehingga tidak pernah berhasil terwujud di dunia luar. Kita membutuhkan teknologi untuk memperbesar daya potensi yang masih lemah ini menjadi mungkin dan kuat dengan cara mengakselerasikannya.

Implant otak. Teknologi ini menjadi fantasi bagi saya dengan mencari titik dalam kawasan otak yang memiliki daya delusi melimpah. Teknologi ini tidak akan berfungsi pada manusia normal yang tidak memiliki delusi, tapi juga tidak akan berhasil pada manusia sakit jiwa yang delusinya tidak terkontrol. Delusi melimpah dalam otak orang-orang sakit jiwa, tapi hanya yang terkontrol saja yang bisa dimanfaatkan. Caranya; banyak orang-orang sakit jiwa yang delusinya selama ini tertekan oleh obat-obat psikotropika. Dengan melepas dan berhenti obat, maka delusinya akan muncul dan mengemuka. Dengan syarat, ia tetap memiliki kesadaran alias mantan orang sakit jiwa yang pikiran dan kesadarannya telah normal dan mengembang. Dengan ini, secara teoritis alat akselerasi daya delusi menjadi mungkin, dan manusia siap menuju era di mana ia bisa dengan telekinetik, memengaruhi materi dunia luar hanya dengan pikirannya. Batu dari jauh bisa terangkat tanpa tangan dan kaki, cukup dengan pikiran saja dari jauh. Bahkan pikiran ini menurut imajinasi saya mampu melawan gravitasi sehingga tubuh kita terangkat ke atas atau mungkin terbang tanpa alat apa pun. Implant otak yang berfungsi mengakselerasikan kekuatan potensial dari delusi yang masih lemah juga harus menyertakan pengetahuan kimiawi tubuh dan otak, obat-obatan kimia, biologi jaringan, elektro, gelombang, mekanika dan fisika itu sendiri. Teknologi ini juga membutuhkan fisik tubuh yang kuat, imaji pikiran terlatih dan sedikit keberuntungan.

Komentar