Pesepak Bola Indonesia Rame-Rame Hijrah Ke Luar Negeri

Olahraga330 Dilihat

Jumlah pemain yang berani berkarier di negeri-negeri yang asing meningkat, dan ada prestasi yang bagus dari Andik Vermansyah di Malaysia dengan gelar Piala Malaysia 2015 bersama Selangor. Sementara di Thailand, striker naturalisasi Indonesia, Sergio van Dijk, tampil baik bersama Suphanburi di mana ia menjadi top skorer klub di liga. Bukan tahun yang buruk bagi Indonesians abroad.

Menariknya, jumlah pemain Indonesia yang berkarier luar negeri sepertinya akan meningkat di tahun 2016 ini. Akhirnya, pemain-pemain Indonesia mulai berani dan tertarik untuk hijrah dari sepakbola Indonesia untuk mencari tantangan baru di luar. Sanksi yang belum juga dicabut oleh FIFA dan kondisi sepakbola nasional yang belum juga kondusif menjadi alasan utama mengapa sejak akhir tahun 2015 hingga awal tahun 2016 ini, jumlah pemberitaan tentang pemain Indonesia yang tertarik bermain di luar negeri atau mulai menjalani seleksi di klub negeri-negeri jiran bertambah.

Andik VirmansyahKetiadaan kompetisi atau setidaknya kepastian bahwa kompetisi regular akan digelar menjadi pendorong utama, apalagi melihat kalau wacana liga musim 2016 sepertinya sulit terlaksana dengan masih egoisnya piak Kemenpora maupun PSSI dan PT Liga.
Saya sempat menulis tentang beberapa alasan mengapa pemain-pemain Indonesia masih belum berani berkarier di luar, tapi sepertinya beberapa pemain mulai menghapus ketidakberanian mereka dan menggantinya dengan keinginan kuat untuk berkarier di luar negeri agar bisa bermain sepakbola lagi dan terikat kontrak pasti. Semuanya karena keadaan.

Dedi Kusnandar hampir dipastikan akan dikontrak oleh klub Malaysia, Sabah, pada musim 2016 ini. Achmad Jufriyanto sempat jalani seleksi di Trengganu, namun akhirnya batal direkrut walau kemudian muncul rumor bahwa ada klub Malaysia lain yang meminatinya.

Samsul Arif kabarnya akan menjalani seleksi di Malaysia juga pada bulan Januari ini, meski ia merahasiakan di klub mana seleksi akan dilakukan. Sementara jebolan timnas U-19, Paulo Sitanggang, akan menjalani seleksi di Singapura bersama Warriors FC pada pertengahan Januari ini. Titus Bonai juga nyaris berkarier di Myanmar bersama Kanbawza FC di Myanmar Premier League.

Tibo sebetulnya sudah hampir menandatangani kontrak, namun, menurutnya, masalah administrasi yang pelik akibat konflik sepakbola nasional membuatnya batal berkarier di Myanmar dan memilih kembali ke Sriwijaya FC (Ironisnya, Sriwijaya FC kemudian malah mencoret namanya dari skuat, akibat alasan yang tidak diungkapkan secara resmi).

Tapi berita paling besar tentu saja datang dari Evan Dimas. Setelah menolak tawaran seleksi di Jepang, Evan hampir menolak tawaran kontrak jangka pendek bersama tim B Espanyol di Spanyol. Alasannya, pengalaman kegagalan di Llagostera, klub divisi dua Spanyol yang sempat mengundangnya seleksi, membuatnya malu dan enggan mengalami hal yang sama lagi. Masalahnya, tawaran dari Espanyol B pun memang “kurang meyakinkan”, hanya kontrak jangka pendek selama setengah musim atau sekitar empat bulan saja. Untungnya, Evan akhirnya memutuskan untuk mengambil tawaran tersebut.

Selain kabar gembira dari pemain-pemain yang baru memulai kariernya di luar negeri, ada juga kabar gembira dari pemain-pemain yang dipertahankan oleh klubnya. Setelah musim pertamanya yang cukup bagus, Andik diperpanjang kontraknya oleh Selangor selama satu musim, sementara Dedi Gusmawan juga mendapatkan perpanjangan kontrak dari Zeyar Shwe Myay, klub Myanmar yang merekrutnya pada pertengahan musim 2015. Dedi sebetulnya sempat mendapatkan tawaran bermain di Malaysia, namun lebih memilih untuk memperpanjang kontraknya di Myanmar.

Irfan Bachdim juga dipastikan akan terus bermain di Jepang bersama Consadole Sapporo, yang memperpanjang kontraknya. Ia memang belum bisa menjadi pemain utama di klub Hokkaido tersebut, tetapi setidaknya perpanjangan kontraknya menunjukkan kalau klubnya masih percaya pada pemain kelahiran Belanda ini.

Sementara itu, cukup mengejutkan keputusan pelatih moncer Timnas Indonesia Rahmad Darmawan yang memilih hijrah ke klub Malaysia. Namun diawal karir Rahmad Darmawan di Liga Super Malaysia masih belum berjalan positif. Eks pelatih Timnas Indonesia itu belum meraih kemenangan dari dua laga. RD memutuskan untuk membesut T-Team di Malaysia sepanjang tahun 2016 ini. Hal ini dampak dari kondisi sepakbola tanah air yang masih simpang siur.

T-Team asuhan RD berhasil promosi dari Divisi Utama setelah Lions XII tak lagi main di Liga Malaysia. Perjalanan promosi mereka lancar setelah menang di babak playoff.

Tetapi, pelatih berusia 49 tahun itu harus bersabar untuk rasakan kemenangan pertamanya di kompetisi kasta tertinggi sepakbola ‘Negeri Jiran’.

T-Team hanya bisa bermain imbang melawan Pahang 2-2 di pekan pembukaan Liga Super Malaysia musim ini pada hari Sabtu lalu, 13 Februari 2016.

Setelah itu, RD harus mengakui keunggulan juara bertahan, Johor Darul Ta’zim, dua gol tanpa balas pada laga kedua hari Selasa, 16 Februari 2016.

Hasil ini membuat T-Team asuhan Rahmad Darmawan berada di zona degradasi menduduki peringkat 11 dari 12 klub dengan total satu poin.

Setelah ini, tim asal Kuala Terengganu itu akan hadapi FELDA United dan PDRM yang duduki peringkat lima dan enam klasemen sementara. Sampai kapan RD harus menunggu kemenangan pertamanya di laga resmi Liga Super Malaysia?

Yang mengejutkan, tim Singo Edan bakal ditinggalkan salah satu kiper andalan mereka Kurnia Meiga Hermansyah. Ya, kiper tim nasional Indonesia itu disebut bakal melanjutkan kariernya bersama klub Jepang.

Hal itu dibenarkan istrinya, Azhiera Adzka Fathir. “Untuk lebih jelasnya, biar manajemen Arema saja yang menjelaskan. Saya takut nanti malah salah bicara,” kata wanita yang akrab disapa Zhia itu, seperti dikutip Wearemania.

Bisa jadi, Meiga akan berlabuh di Consadole Sapporo. Mengingat, Arema memang memiliki ikatan kerja sama dengan klub tersebut.

Komentar