Istilah ‘Pembelotan’ Tak Dapat Dipisahkan dari Friksi saat Pilpres 2014

Politik231 Dilihat

Beritaasatu – Ketua Umum Badan Relawan Nusantara (BRN) Eki Tarigan menyebut peta politik tanah air saat ini terutama dengan istilah ‘Pembelotan’ maka tak dapat dipisahkan dari friksi yang terjadi pada perhelatan demokrasi yaitu pemilihan Presiden 2014.

“Itu terlihat dengan nyata adanya dua kutub politik yang menamakan dirinya Koalisi Merah Putih (KMP) dan Koalisi Indonesia Hebat (KIH),” kata Eki, Sabtu (30/1/2016).

Diskusi JIMI bertema Peta Politik Pasca Pembelotan Golkar
Diskusi JIMI bertema Peta Politik Pasca Pembelotan Golkar

Menurut dia, memaknai pertarungan dua kutub ini ia membandingkan dua konsepsi yang diajukan sebagai gambaran atas visi dan misi mereka. Secara garis besar, kata dia, dapat disimpulkan bahwa baik 8 program nyata KMP maupun Nawacita KIH tidak memiliki perbedaan yang signifikan yang membedakan keduanya.

“Sehingga ketika kita menggunakan analisa berdasarkan visi, misi dan program dari pertarungan kedua kubu maka masuknya Golkar kedalam pendukung pemerintah seharusnya menjadikan peta perpolitikan kedepan menjadi jauh dari hiruk pikuk, trik dan intrik politik,” ungkapnya.

Namun, masih kata Eki, permasalahannya adalah apakah kedua program itu merupakan visi dari setiap kubu dan merupakan dasar dari membentuk pemerintahan negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia.

“Sebenarnya pertanyaan yang harus terlontar bukan peta politik pasca pembelotan, tapi apa yang melatarbelakangi peristiwa perpindahan parpol dari penyeimbang pemerintah menjadi pendukung pemerintah. Kemudian harus seperti terlalu dibesar-besarkan bahkan memaksakan diri untuk mendominasi seluruh pikiran setiap manusia di Republik ini,” pungkasnya.