JAKARTA – Founder Restorasi Jiwa Indonesia, Syam Basrijal menyoroti meningkatnya kecemasan sosial di tengah tekanan ekonomi global yang belum sepenuhnya stabil. Menurutnya, masyarakat saat ini perlahan hidup dalam arus ketakutan yang terus diproduksi setiap hari, baik melalui ruang publik maupun media sosial.
Syam menilai sedikit isu ekonomi yang muncul kerap memicu kepanikan berlebihan di tengah masyarakat. Kenaikan harga, ketidakpastian ekonomi, hingga derasnya narasi pesimisme di media sosial membuat ruang publik dipenuhi ketegangan dan kekhawatiran.
“Seolah-olah bangsa ini sedang dibentuk untuk hidup dalam rasa takut yang terus menerus,” tulis Syam Basrijal dalam keterangannya.
Ia menilai kondisi tersebut berbahaya karena banyak masyarakat sebenarnya belum benar-benar berada dalam situasi kehancuran ekonomi, namun secara mental sudah lebih dulu runtuh akibat ketakutan yang dipelihara terus menerus.
Akibatnya, masyarakat perlahan kehilangan kejernihan dalam membaca situasi. Ketakutan mulai memengaruhi cara berpikir, mengambil keputusan, hingga memandang masa depan.
Menurut Syam, sejarah menunjukkan bahwa kehancuran sebuah bangsa tidak selalu disebabkan perang ataupun serangan dari luar. Dalam banyak kasus, kehancuran justru dimulai ketika masyarakat kehilangan kemampuan berpikir sehat dan jernih.
“Ketika rakyat terlalu mudah takut, terlalu mudah marah, terlalu mudah terprovokasi, maka kemampuan berpikir rasional mulai melemah. Dan ketika kejernihan mati, manusia menjadi mudah diarahkan, mudah dimanipulasi, mudah dipecah, lalu sibuk saling melemahkan satu sama lain,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kecemasan yang terus dipelihara dapat berubah menjadi alat penghancur sosial yang efektif tanpa membutuhkan perang terbuka maupun penjajahan fisik.
“Cukup membuat masyarakat terus hidup dalam rasa takut, maka perlahan energi bangsa akan habis dengan sendirinya. Produktivitas menurun. Relasi sosial rusak. Keputusan diambil secara emosional. Kreativitas melemah. Dan masyarakat kehilangan kemampuan membangun harapan bersama,” kata Syam.
Fenomena tersebut, lanjut dia, semakin terlihat di era digital saat ini. Masyarakat dinilai terus dibanjiri berita buruk dan narasi pesimisme yang dikonsumsi tanpa henti, sehingga energi publik lebih banyak terkuras untuk memelihara rasa takut dibanding membangun solusi nyata.
Menurut Syam Basrijal, bangsa yang kuat bukanlah bangsa yang tidak memiliki masalah, melainkan bangsa yang tetap mampu menjaga kejernihan di tengah tekanan.
“Hanya manusia yang tenang yang mampu berpikir utuh. Hanya pikiran yang jernih yang mampu membaca peluang di tengah krisis. Dan hanya masyarakat yang tidak mudah panik yang mampu bertahan dalam perubahan besar,” jelasnya.
Karena itu, ia menegaskan bahwa ketenangan kini bukan lagi sekadar urusan pribadi, melainkan telah menjadi bagian dari kekuatan kesadaran sosial dan pertahanan bangsa.
“Jika ketakutan terus dipelihara, maka tanpa sadar bangsa ini perlahan akan menghancurkan dirinya sendiri dari dalam,” ujar Syam Basrijal.
“Lucunya, banyak orang belum benar-benar hancur karena resesi—mereka hanya kalah lebih dulu oleh kepanikan sendiri. Padahal di tengah ketidakpastian, yang paling menentukan bukan siapa yang paling kuat, tetapi siapa yang tetap cukup tenang untuk berpikir jernih saat yang lain sibuk kehilangan arah,” lanjutnya.







Komentar