Jakarta – Founder Restorasi Jiwa Indonesia (RJI), Syam Basrijal, menilai Generasi Zoomer (Gen Z) sebagai generasi yang tumbuh dengan karakter unik akibat kedekatan mereka dengan layar digital dan media sosial. Sejak kecil, Gen Z dibesarkan oleh notifikasi, video pendek, dan banjir informasi tanpa batas dari internet. Kondisi itu membuat mereka berkembang menjadi kelompok yang sangat kreatif, adaptif, dan cepat memahami teknologi. Namun di saat yang sama, mereka juga menghadapi kompleksitas psikologis yang tidak dialami generasi sebelumnya.
Syam menyebut Gen Z sebagai generasi yang hidup di dua dimensi: dunia nyata dengan berbagai tuntutan, dan dunia digital yang penuh perbandingan. Karena berada di dua ruang sekaligus, mental mereka menjadi lebih mudah goyah dan rentan. Arus informasi yang terus datang membuat ruang batin mereka sering terdistraksi, sehingga kesehatan mental kerap menjadi korban tersembunyi.
Media sosial turut memperparah keadaan. Validitas diri Gen Z sering ditentukan oleh jumlah like, komentar, dan atensi yang mereka terima. Setiap interaksi digital terasa sebagai apresiasi emosional. Sebaliknya, penurunan interaksi tersebut menimbulkan rasa tidak cukup dan keraguan terhadap diri sendiri. Inilah yang Syam sebut sebagai paradoks Gen Z—media sosial membuka ruang ekspresi, namun sekaligus memperbesar ruang perbandingan. Di balik konten ceria, banyak anak muda memikul kecemasan dan tekanan untuk terus terlihat baik.
Fenomena ini dimanfaatkan oleh platform digital yang mengoperasikan algoritma untuk mengatur konten yang muncul. Hal tersebut membentuk persepsi, emosi, dan kebiasaan Gen Z, hingga memunculkan FOMO (fear of missing out). Mereka merasa harus terus mengikuti tren dan informasi terbaru. Menurut Syam, algoritma ini tidak netral karena mempengaruhi cara Gen Z melihat dunia.
Dari kondisi tersebut, Syam menarik benang merah bahwa Gen Z tumbuh dengan pola pikir yang kompleks dan realistis. Pandangan dan keputusan mereka dipengaruhi derasnya informasi yang mereka konsumsi setiap hari. Untuk menyikapi Gen Z, Syam menawarkan empat poin: pertama, Gen Z ingin didengarkan tanpa dihakimi; kedua, mereka harus dibimbing untuk memahami batas sehat dalam berinteraksi dengan dunia digital; ketiga, perlu ada ruang aman bagi mereka yang sedang mengalami keterpurukan mental; dan keempat, keluarga harus aktif berkomunikasi dan membangun hubungan yang sehat di rumah maupun lingkungan sosial.
Bagi Syam, Gen Z bukan masalah, melainkan cermin perubahan dunia. Mereka membawa luka, tetapi juga potensi besar untuk menjadi generasi paling sadar dan reflektif. Dengan pendampingan tepat, mereka bisa tumbuh menjadi generasi yang berani menghadapi keterbatasan sambil tetap maju.
Pola Pikir Gen Z
Syam menjelaskan bahwa Gen Z sangat peduli pada keadilan, keberagaman, dan kesetaraan. Mereka vokal mengenai isu gender, diskriminasi, toleransi antaragama, dan masalah lingkungan. Kedekatan mereka dengan informasi membuat mereka lebih sensitif dan responsif terhadap isu sosial.
Dari sudut pandang generasi sebelumnya, perilaku Gen Z mungkin dianggap membangkang. Mereka kerap mempertanyakan instruksi, menyampaikan kritik, atau menolak perintah tanpa penjelasan. Bagi sebagian orang tua atau pemimpin, perilaku ini terlihat seperti ketidaksopanan. Namun menurut Syam, Gen Z hanya ingin dianggap sebagai manusia yang punya nalar dan suara. Mereka butuh dialog, bukan sekadar komando.
Di sisi spiritualitas, Gen Z sering dianggap jauh dari agama. Padahal yang mereka hindari adalah pendekatan keagamaan yang kaku dan keras. Mereka mencari referensi spiritual dari internet, mengikuti figur agama di media sosial, dan belajar melalui konten singkat yang menyentuh hati. Fenomena ini disebut Syam sebagai “spiritualitas instan”. Meski demikian, mereka tetap membutuhkan pendamping yang mau mendengar tanpa menghakimi dan tidak mudah memberi label negatif seperti kafir atau kurang beriman.
Cara Pandang terhadap Pekerjaan dan Kepemimpinan
Dalam dunia kerja, Gen Z memandang pekerjaan bukan hanya sebagai sumber penghasilan, tetapi juga sebagai ruang pengembangan diri. Setelah kebutuhan dasar terpenuhi, mereka mencari pekerjaan yang bermakna, memberi kesempatan tumbuh, dan berada dalam lingkungan yang sehat. Mereka menolak budaya lembur tanpa arah dan tidak betah dalam lingkungan kerja toksik. Gen Z lebih memilih pindah pekerjaan atau membangun usaha sendiri daripada terjebak dalam sistem yang merusak mental mereka.
Syam menegaskan bahwa sikap ini bukan bentuk kemanjaan, melainkan usaha menjaga keseimbangan hidup dan kesehatan mental. Karena itu, Gen Z cenderung mencari pemimpin yang bersikap sebagai mentor—tegas, jelas, tetapi terbuka pada dialog. Mereka menghargai pemimpin yang mau mendengar gagasan, memberi ruang diskusi, dan mampu memberi teladan nyata, bukan sekadar jabatan atau wewenang.
Bahkan dalam hal karier, banyak Gen Z memilih jalur non-monoton seperti berwirausaha. Mereka tidak tertarik pada pola kerja tradisional yang menuntut bertahan puluhan tahun demi pensiun. Mereka ingin tantangan, fleksibilitas, dan kebebasan memilih jalan hidup.
Syam menekankan bahwa Gen Z bukan sekadar generasi yang kecanduan gadget. Mereka adalah calon pemimpin, pembuat kebijakan, pendidik, dan orang tua masa depan. Mereka harus membaca dan memahami dunia yang jauh lebih kompleks daripada generasi sebelumnya. Dengan regulasi yang jelas dan pendampingan yang baik, Gen Z dapat menjadi generasi yang membawa Indonesia ke arah yang lebih sehat dan adaptif terhadap perkembangan zaman.




Komentar