by

Karyono Wibowo Nilai Gerak Jalan di Solo Tetap Bermuatan Politik

-Nasional-128 views

Jakarta – Direktur Indonesia Public Institute (IPI) Karyono Wibowo menilai gerakan gerak jalan yang akan digelari di Solo pada hari Minggu (9/8) besok tidak bisa dilepaskan dari muatan politiknya. Hal ini karena melihat dari tokoh-tokoh yang akan hadir dalam kegiatan tersebut.

“Saya lihat mereka masyarakat pasti tahu gerakan 2019 ganti presiden, mau dibungkus dengan apapun pasti ketahuan, pasti ada gerakan politik di dalamnya meskipun dilihat dari gerak jalan. Ini dilihat dari aktornya,” kata Karyono ketika ditemui di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (8/9/2018).

Apalagi jika melihat track record gerakan tersebut, Karyono menilai masih ada penumpang gelap yang mencoba bermain dalam gerakan hastag 2019 ganti presiden itu, yakni gerakan penegakan Khilafah yang dibawa oleh elemen dari ormas Hizbut Tahrir Indonesia meskipun telah dibubarkan oleh pemerintah melalui putusan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta.

Sayangnya, kelompok pegiat gerakan 2019 ganti presiden masih menolak upaya politik mereka disusupi oleh gerakan pendirian khilafah dengan 2019 gantu sistem. Dan untuk konteks itu, Karyono memberikan saran agar para deklarator dan pegiatan hastag itu membuktikannya secara nyata.

“Ya sterilkan aja dengan adanya gerakan-gerakan supersif di sana, gerakan yang ingin ganti dasar negara,” tuturnya.

Karyono juga menduga ada unsur kesengajaan mengapa gerakan gerak jalan yang diduga merupakan bungkusan dari gerakan tagar 2019 ganti presiden tersebut digelar di Solo. Ia melihat ada target penting yakni Psywar alias perang urat syaraf.

“Ini perang urat syaraf. Jokowi kan lahir di sana, jadi kalau terjadi kerusuhan di sana, maka itu yang mereka kehendaki. Makanya jangan terpancing dengan gerakan mereka agar jangan sampai chaos,” tegasnya.

Lebih lanjut, Karyono mengingatkan kepada seluruh masyarakat Indonesia agar tidak terpancing dengan gerakan 2019 ganti presiden dengan melakukan gerakan tandingan yang justru akan semakin memperparah nafas demokrasi di Indonesia.

“Semua harus tahan diri agar tidak membuat kegiatan-kegiatan yang berbau kampanye. Semua harus taat kepada aturan yang telah disepakati bersama,” tutupnya.

Terakhir, ia juga meminta masyarakat luas agar tidak perlu hadir atau dekat-dekat dengan lokasi gerak jalan yang digelar oleh eksponen gerakan 2019 ganti presiden, karena khawatir akan menjadi klaim baru.

“Publik yang tidak berkepentingan dengan gerakan tersebut, sebaiknya menjauh saja, karena akan berpotensi membuat tensi sosial semakin tinggi lagi,” tutupnya.

(del)

Comment

News Feed