Jakarta – Youth Movement Institute (YMI) mengingatkan masyarakat Indonesia yang sangatlah beragam dilihat dari suku bangsa, budaya maupun kepercayaan dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika dan dasar negara Pancasila didalamnya telah menganut prinsip pluralisme sebagai warisan budaya yang perlu dijaga.

Menurut dia, sikap menerima perbedaan harus bisa diwujudkan bukan hanya sebagai realitas objektif tetapi juga sebagai potensi dinamik yang memberikan kemungkinan dan harapan akan kemajuan dimasa depan.
“Sikap pluralisme ini perlu kita kembangkan. Sebuah pluralisme yang menyemangati sistem pergaulan sosial yang memungkinkan setiap unsur kultural masyarakat saling berinteraksi secara alamiah dalam proses yang saling memperkaya, dan diharapkan,” tuturnya.
Sementara itu, Ketua Umum Forum Betawi Rempug (FBR) KH. Luthfi Hakim menilai pluralisme masih lebih efektif dengan Bhineka Tunggal Ika untuk pemuda. Luthfi Hakim meminta agar para pemuda tidak terlalu mengagungkan konsep barat yang bisa menghilangkan nilai luhur bangsa Indonesia.
“Hidupkan kembali nilai-nilai luhur bangsa dan mempertahankannya. Mari gali kembali kearifan lokal,” ucap dia.
Anggota DPR RI Ahmad Sahroni lebih menyoroti kehidupan anak muda saat ini. Politisi Nasdem itu cenderung meminta agar para pemuda tidak terlalu berhura-hura, mendingan mempersiapkan diri menjadi pemimpin yang lebih baik.
“Jadilah diri sendiri itu lebih baik supaya menjadi pemimpin bangsa yang lebih baik. Apakah itu didalam keluarga maupun di lingkungan masyarakat,” ungkapnya.
“Kaum muda agar menjalankan amanat sejarah bangsa kita ini,” terang dia.
Perwakilan FPI Ali Alatas lebih memandang pada istilah pluralisme. Kata dia, sebelum berbicara pluralisme terlebih dulu agar memahami arti pluralisme itu sendiri supaya ditahap pelaksanaannya tidak salah kaprah dan lebih sepakat dengan istilah toleransi.
Anggota DPR Arteria Dahlan lebih mendorong generasi muda untuk terlibat dalam proses demokrasi dan memilih pemimpin yang menjujung tinggi visi kerakyatan.