11 Maret 1966, Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) diterbitkan oleh Presiden ke-1 Indonesia, Soekarno.
Surat itu memuat instruksi Soekarno kepada Soeharto, yang ketika itu menjabat sebagai Panglima Komando Operasi Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib). Sebelum menekennya, Soekarno didatangi tiga orang jenderal utusan Soeharto: M. Jusuf, Amirmachmud, dan Basuki Rahmat.
Penerbitan surat sakti itu dipandang penting, karena menjadi semacam legalisasi peralihan kekuasaan Soekarno ke Soeharto. Sekitar empat bulan setelah Supersemar terbit, Soeharto menjadi Jenderal bintang empat (1 Juli 1966). Posisi yang kian memuluskan jalannya mejabat sebagai presiden Indonesia, per 12 Maret 1967.
Sejumlah kalangan bahkan menyebut Supersemar sebagai “kudeta merangkak” yang dilakukan Soeharto. Sejarawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesi (LIPI), Asvi Warman Adam, salah satu yang meyakini pandangan itu.
Dalam buku Bung Karno Dibunuh Tiga Kali, Asvi menjelaskan, kunci Supersemar ada pada parafrasa “mengambil segala tindakan yang dianggap perlu”. Lebih kurang, menurut Asvi, kalimat itu semacam blangko kosong bagi Soeharto guna melakukan apa saja yang dipandangnya perlu –termasuk mengambil alih kekuasaan secara perlahan.
Adapun Soeharto menolak tudingan bahwa dirinya melakukan kudeta. Harian Kompas (11 Maret 1971, h/t Kompas.com) memuat bantahan Soeharto itu.
“Saya, tidak pernah menganggap Surat Perintah 11 Maret sebagai tujuan untuk memperoleh kekuasaan mutlak. Surat Perintah 11 Maret juga bukan merupakan alat untuk mengadakan kup terselubung,” demikian pernyataan Soeharto.
Soeharto –saat berita itu dipublikasikan telah menjabat presiden– menjelaskan bahwa Supersemar hanya digunakan untuk “membubarkan PKI (Partai Komunis Indonesia) dan menegakkan kembali wibawa pemerintahan.”
Kontroversi itu ditambah dengan simpang-siur sejarah lainnya. Simpang siur, misalnya, dipicu pengakuan Letnan Satu (Lettu), Soekardjo Wilardjito, yang saat penerbitan Supersemar bertugas menjaga Soekarno.
Soekardjo menyebut bahwa para jenderal yang mendatangi Soekarno, telah melakukan intimidasi terhadap presiden. Ia pun menyebut saat itu ada empat orang jenderal yang menemui Soekarno –termasuk Maradean Pangabean.
“Waktu itu Jenderal Basuki Rachmat dan Jenderal Maraden Panggabean menodongkan senjata pistol FN 45 ke arah Bung Karno. Sementara Jenderal M. Jusuf menyodorkan map warna merah muda berisi sebuah dokumen,” kata Soekardjo.
Pengakuan itu termuat dalam liputan media –pasca-reformasi. Di sisi lain, keluarga para jenderal membantah kesaksian itu.

Masih menjadi misteri
Kontroversi kian liar, sebab keberadaan naskah asli Supersemar masih terselubung misteri. Bertahun setelah surat sakti itu terbit, pemerintahan Soeharto mengumumkan bahwa naskah tersebut hilang.
Hal itu memicu pertanyaan: Benarkah naskah itu hilang? Atau justru dihilangkan?
Mengutip Harian Kompas (11 Maret 2016), Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) telah menyimpan tiga arsip yang sempat diduga sebagai naskah supersemar. Namun ketiga naskah itu sudah dinyatakan tak asli oleh Pusat Laboratorium Forensik Badan Reserse Kriminal Polri.
ANRI juga telah membentuk tim khusus, yang siap meluncur bila ada informasi seputar naskah Supersemar.
Adapun Kepala ANRI, Mustari Irawan, meyakini bahwa Supersemar pernah dikeluarkan. Pandangan itu sekaligus membantah anggapan bahwa surat tersebut jangan-jangan tak pernah ada.
“Bung Karno menyatakan ada. Di filmnya, Bung Karno menyebutkan supersemar itu bukan pengalihan kekuasaan, tapi instruksi untuk menjalankan pengamanan negara dan wibawa presiden. Kalau beliau menyampaikan pidato sebagai presiden, tidak mungkin beliau berbohong,” kata Mustari, dalam sebuah wawancara dengan Merdeka.com (11 Maret 2015).
Dalam wawancara yang sama, Mustari sempat menyebut bahwa dirinya berharap ada “mukjizat dari Allah” dalam upaya pelacakan atas naskah asli itu. Pasalnya, para tokoh kunci (tiga orang jenderal yang menemui Soekarno) telah berpulang.
Cendekiawan ilmu sosial – politik, Daniel Dhakidae, melukiskan pencarian atas naskah itu sebagai “pekerjaan mencari hantu.” Hal itu dia sampaikan dalam diskusi terbatas Penerbit Buku Kompas di Bentara Budaya Jakarta, Kamis (11/3/2016).
Adapun sejarawan, Asvi Warman Adam, masih optimistis naskah itu bisa ditemukan. Asvi bahkan menyarankan agar ANRI melacak naskah itu hingga ke rumah kediaman keluarga Soeharto di Jalan Cendana, Jakarta.
“Arsip Nasional itu (bisa) melacaknya antara lain di rumah Pak Soeharto. Di rumah Pak Soeharto, misalnya di Jalan Cendana itu. Siapa tahu masih tersimpan di situ,” ujar Asvi, termuat dalam wawancaranya dengan Merdeka.com (11 Maret 2016).
Seperti dilaporkan Harian Kompas, Asvi juga menilai pencarian Supersemar penting dalam usaha mengungkap sisi gelap sejarah bangsa Indonesia –misalnya tragedi 1965.
Jumat (11/3), tepat peringatan lima puluh tahun terbitnya Supersemar, publik media sosial juga berbagi komentar ihwal surat sakti itu.
Tagar #Supersemar bahkan sempat memuncaki tren Twitter Indonesia, Jumat (11/3). Namun isi kicauan di tagar tersebut, tak banyak berhubungan langsung dengan Supersemar. Agaknya, tagar itu diramaikan aktivitas akun-akun bot (robot).
Pun bila ada kicauan seputar Supersemar, nadanya tak selalu serius. Beberapa netizenjustru menyoalnya dengan nada humor. Berikut sejumlah kicauan menarik yang kami angkut dari linimasa Twitter.







Komentar