Hari Perempuan, KASBI: Stop Nawaduka Perempuan Indonesia

Nasional229 Dilihat
Kasbi peringati hari perempuan Internasional didepan Istana Negara
Kasbi peringati hari perempuan Internasional didepan Istana Negara

Beritaasatu – Hari Perempuan Internasional dirayakan setiap tanggal 8 Maret oleh kaum perempuan diseluruh belahan dunia dan merupakan sebuah kemenangan gerakan perempuan dalam memperjuangkan hak-hak dan kesetaraan kaum perempuan.

Untuk merayakannya itu, ratusan buruh tergabung dalam Konfederasi Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI) turun kejalan dengan aksi pawai longmarch dari Patung Kuda Indosat menuju Istana Negara.

Ketua KASBI Nining Elitos menyebut hingga sampai hari ini setelah 106 tahun usia Hari Perempuan Internasional, pemerintahan Jokowi-JK dinilai tidak pernah menepati janjinya sesuai Nawacita.

“‎Ini malah sebaliknya, Jokowi-JK semakin memperdalam Nawaduka Perempuan Indonesia,” kata Nining, Selasa (8/3/2016).

Lebih lanjut, Nining bersama elemen buruh perempuan berkaos merah itu menyerukan sembilan Nawaduka Perempuan Indonesia. Pertama, kata dia, duka buruh perempuan. Pelanggaran terhadap hak maternitas buruh (hak untuk mendapatkan cuti haid, cuti melahirkan, hak menyusui) sesuai dengan UU, buruh upah murah, ketidakpastian status kerja, dan belum adanya peraturan jelas tentang pekerja rumah tangga dan buruh migran.

“Duka selanjutnya adalah duka demokrasi dan pelanggaran ham. Pembubaran serikat pekerja, rendahnya partisipasi perempuan dalam wilayah politik dan pelanggaran ham diwilayah konflik seperti Papua tidak pernah diselesaikan sampai saat ini,” tutur Nining.

Nining melanjutkan, duka berikutnya adalah duka kekerasan seksual. Perempuan masih dianggap rentan dengan pelecehan seksual, tindakan pemerkosaan, tes keperawanan terhadap perempuan dan penyiksaan secara seksual. Juga ada diskriminasi, pemiskinan, dan kebijakan pasar bebas. Selain itu, tambah Nining, duka perempuan dalam mengakses kesehatan, bahkan duka pendidikan mahal tak bermutu dan kriminalisasi gerakan rakyat.

“Duka terakhir adalah budaya kekerasan dan militerisme. Perempuan masih rentan menjadi korban kekerasan baik didalam rumah maupun dipublik. Budaya bully dan mengedepankan kekerasan militer dalam penyelesaian masalah didaerah,” tukasnya.

Dalam parade juang perempuan Indonesia itu, mereka memukul seratus kentongan didepan Istana Negara sebagai pertanda bahwa nasib perempuan Indonesia sedang darurat.

Komentar