MRPTNI Dorong Kampus Jadi Ruang Aman Sekaligus Penggerak Inovasi

Nasional5 Dilihat

Surabaya — Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI) menegaskan peran strategis perguruan tinggi sebagai pusat peradaban, ruang aman bagi sivitas akademika, sekaligus motor inovasi nasional dalam Forum Diskusi Panel Festival Kebangsaan GEMA KAMPUS ke-7 yang berlangsung di Gedung Rektorat Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Sabtu (9/5/2026).

Mengusung tema “Sejarah dan Budaya sebagai Rute Peradaban dan Energi Potensial Bangsa,” forum ini mempertemukan para rektor, pejabat pemerintah, akademisi, dan pemangku kepentingan untuk membahas tantangan perguruan tinggi, mulai dari penguatan karakter kebangsaan hingga isu keamanan dan keberlanjutan lingkungan kampus.

Dalam forum tersebut, Ketua MRPTNI, Eduart Wolok, menekankan pentingnya tata kelola kampus yang adaptif dan kolaboratif agar perguruan tinggi mampu menjalankan perannya secara optimal sebagai mitra strategis negara dalam membangun peradaban bangsa.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Arifah Choiri Fauzi, menegaskan bahwa kemajuan peradaban tidak hanya diukur dari capaian teknologi, tetapi juga dari penghormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan.

Menurutnya, kampus merupakan “laboratorium peradaban” yang berperan membentuk generasi berempati, berintegritas, dan menjunjung nilai kemanusiaan.

“Kampus bukan sekadar tempat transfer ilmu pengetahuan, melainkan ruang lahirnya gagasan, nilai, dan gerakan perubahan,” ujarnya.

Ia juga menegaskan pentingnya menciptakan lingkungan kampus yang aman dan inklusif serta memperkuat pencegahan dan penanganan kekerasan seksual melalui penguatan Satgas PPKS dan layanan perlindungan korban.

Sementara itu, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, menekankan bahwa perguruan tinggi harus mampu menghadirkan inovasi berbasis riset yang berdampak langsung bagi masyarakat, khususnya di bidang pangan, energi, dan lingkungan.

“Kampus tidak cukup hanya menjadi pusat ilmu pengetahuan, tetapi juga harus menjadi role model dalam menghadirkan inovasi yang relevan dan bermanfaat bagi masyarakat,” katanya.

Ia turut mengapresiasi Universitas Negeri Surabaya yang dinilai berhasil menerapkan pengelolaan sampah mandiri di lingkungan kampus sebagai contoh konkret inovasi berkelanjutan yang layak direplikasi secara nasional.

Forum diskusi ini juga menyoroti pentingnya penguatan literasi sejarah, budaya, dan karakter kebangsaan sebagai fondasi menjaga kohesi sosial dan ketahanan nasional. Perguruan tinggi dinilai memiliki peran penting sebagai benteng kultural dalam mencegah disintegrasi sosial, radikalisme, dan berbagai konflik yang berpotensi mengganggu persatuan bangsa.

Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Rector’s Expressions (REx) Chapter 3 MRPTNI yang bertujuan merumuskan arah strategis perguruan tinggi dalam memperkuat literasi sejarah dan budaya, membangun karakter generasi muda, serta meningkatkan kontribusi Indonesia dalam percaturan global.

Melalui forum ini, MRPTNI menegaskan bahwa masa depan Indonesia ditentukan oleh kemampuan perguruan tinggi dalam mengintegrasikan nilai-nilai peradaban dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi guna melahirkan generasi unggul yang kompeten, berintegritas, dan peduli terhadap sesama serta lingkungan.

Komentar