Tanpa Ruh Trisakti, Pertemuan Konferensi Asia Afrika Tidak Ada Gunanya

Nasional293 Dilihat

karyono wibowo dhn 45Beritaasatu – Membangun kembali semangat Asia Afrika memang sebuah keniscayaan di tengah geo politik internasional yang masih memunculkan antagonisme.

Menurut Peneliti senior Indonesia Public Institute (IPI) Karyono Wibowo, kondisi ekonomi Amerika Serikat dan sejumlah negara di Eropa Barat belum sepenuhnya pulih akibat terjangan krisis yang terjadi belum lama ini. Karenanya, sangat tepat menggelorakan kembali semangat kerjasama Asia Afrika.

“Perlu diwujudkan gagasan Presiden Pertama RI Soekarno, dkk untuk mengajak negara-negara Amerika Latin dan Eropa Timur,” kata Karyono, di Jakarta, Senin (13/4/2015).

Ketika itu, kata Karyono, Konferensi Asia – Afrika (KAA) mampu mempengaruhi dan mengubah geo politik internasional dengan 10 butir kesepakatan yang dikenal dengan “Dasa Sila Bandung” atau “Bandung Declaration”.

Dengan 10 butir hasil KAA pertama tahun 1955 tersebut berhasil menekan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) menghasilkan resolusi dalam persidangan PBB ke 15 tahun 1960 yaitu resolusi Deklarasi Pembenaran atau Pengakuan Kemerdekaan kepada negara-negara dan bangsa bangsa yang terjajah. Resolusi PBB tersebut lebih dikenal sebagai Deklarasi Dekolonisasi.

“Dalam pemahaman saya, jika kita pahami 10 butir hasil KAA pertama di Kota Bandung tersebut telah ditiupkan ruh Tri Sakti yang digagas Soekarno, yaitu: Berdaulat di Bidang Politik, Berdikari di Bidang Ekonomi dan Berkepribadian dalam Kebudayaan,” ujar Karyono.

Menurut dia, prinsip dan tujuan KAA yang hendak menghapuskan segala bentuk penjajahan dan membangun kesejajaran di antara bangsa-bangsa adalah implementasi dari konsep Trisakti.

“Jadi, menurut hemat saya, Trisakti memiliki nilai-nilai universal yang berlaku umum bagi semua bangsa di dunia. Karena nilai-nilai Trisakti itu mengandung prinsip yang menjadi tujuan kemerdekaan bangsa-bangsa,” ungkapnya.

Dalam konteks itu, lanjut Karyono, tentu Indonesia menjadi pelopor utama dalam KAA dan Amerika Latin di kala itu. Konferensi tingkat tinggi dalam percaturan politik dunia tersebut telah membuktikan betapa besar peran Indonesia dalam memperjuangkan hak-hak kemerdekaan bangsa bangsa.

“Sukses tidaknya Indonesia dalam dalam menyelenggarakan KAA saat ini tergantung komitmen penyelenggara negara sekarang ini mampu menegakkan kembali prinsip-prinsip Trisakti yang terkandung dalam Dasa Sila Bandung. Jika tidak, maka pertemuan KAA kali ini sama dengan apa yang pernah dilakukan oleh orde baru saat itu. Yaitu, konferensi yang sekadar ceremoni dan tidak menghasilkan apa-apa,” terangnya.

Lebih jauh, Karyono berharap agar KAA tidak boleh hanya sekedar digunakan untuk pencitraan dan ornamen yang dianggap sebagai pajangan untuk hiasan saja.

“KAA adalah sebuah gerakan untuk membangun dunia yang lebih adil dan sejahtera,” tukasnya.

Komentar