Jakarta, beritaasatu.com – Ketua Jurusan Hubungan Internasional Universitas Bina Nusantara, Tirta Mursitama mengatakan bahwa Perdana Menteri Australia, Tony Abbott salah bila mengecam hukuman mati untuk duo ‘Bali Nine’.
“Abbott sedang bermain api, tak perlu dia mengecam terlalu jauh,” ujar Tirta dalam diskusi ‘Diplomasi dan Hukuman Mati’ di Gado-Gado Boplo, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (7/3/2015).
Menurut Tirta, Presiden Joko Widodo tak perlu khawatir dengan sikap penolakan dan kecaman dari Abbott terkait eksekusi mati Andrew Chan dan Myuran Sukumaran. Karena, tambah dia, negeri kanguru itu lebih tergantung terhadap Indonesia.
“Produk pertenakan Australia sekitar 60 persennya ke Indonesia. Produknya mulai dari susu sampai daging dengan alat-alat yang modern, teknologi maju tapi dijualnya ke Indonesia,” ungkapnya.
Tirta menjelaskan, Abbott bisa ditekan para pebisnis di negeri kanguru bila salah bersikap dalam menanggapi rencana hukuman mati yang akan dijalani dua warga negaranya. “Abbott harus hati-hati juga, jika tak mau Australia merugi. Bargaining posisi Australia (dalam bisnis, ingin dinaikan terhadap Indonesia,” terangnya.
Lebih jauh, dia menilai langkah Abbott mengecam hukuman mati semata-mata untuk mendapatkan dukungan dari publik Australia. Pasalnya, dukungan terhadap pemerintah Abbott tengah menurun.
“Ini (menaikkan popularitas) upaya yang akan dilakukan, (membela) sampai mau mengusulkan barter tahanan. Tak perlu dia jual diri seperti itu, itu tanda dia mendapat juga tekanan dari publik dan ranah bisnis,” pungkas Tirta. (Boim)







Komentar