Media dari tiga negara mengaku punya dokumen berisi informasi penting soal identitas para anggota kelompok ISIS. Terangkut sebagai bagian data adalah nama, alamat, nomor telepon, dan kontak keluarga. Hanya Sky News yang menyebutkan nama pembocor dokumen tersebut. Sementara, media-media lain yang bermarkas di Jerman dan Suriah merahasiakannya.
Dilansir dari laman Sky News, arsip-arsip yang mereka peroleh dari seorang pembelot ISIS berjulukan Abu Hamid. Menurut keterangan media Inggris itu, sang pembelot sebelumnya merupakan serdadu Tentara Pembebasan Suriah yang menyeberang ke kubu ISIS. Ia mengaku mencuri gelondongan data itu dari kepala polisi keamanan di lingkungan internal ISIS.
Penerima kartu memori dari Sky News menemui Abu Hamid dengan diam-diam di Turki. Dan dalam sebuah percakapan, sang informan mengklaim bahwa ISIS, YPG (salah satu faksi suku Kurdi), serta pemerintahan Suriah yang dipimpin Bashar Assad berkongsi menghadapi para pemberontak Suriah.
Sky News mewartakan dokumen berisi nama-nama yang berasal dari setidaknya 51 negara, termasuk Inggris. Identitas seorang warga negeri itu diketahui berada dalam data. Ialah Abdul Bary, 26 tahun pemuda asal London yang bergabung dengan ISIS pada 2013 setelah menjejaki tanah Libya, Mesir, dan Turki. Dokumen menyebutkan peran yang ia jalani di ISIS adalah pejuang garis depan. Di Inggris sendiri, Bary dikenal sebagai penyanyi rap.
Menurut Sky News, sejumlah nomor telepon dalam daftar masih aktif ketika dihubungi. Beberapa di antaranya dipercaya sebagai kontak kerabat. Namun, ada pula nomor yang dimiliki langsung oleh para anggota ISIS.
Dari Jerman, afirmasi dilemparkan oleh Reserse Kriminal Federal (BKA) setelah harian Suddeutsche Zeitung dan stasiun penyiaran publik NDR dan WDR mengaku telah mendapatkan data serupa. Menurut media-media tersebut, dilansir The Wall Street Journal, kumpulan arsip termaksud hanya sebagian saja dari bocoran informasi lain yang lebih besar berisi ribuan formulir isian para anggota ISIS.
Juru bicara BKA menegaskan keyakinannya mengenai keaslian dokumen. Mereka berencana bakal memanfaatkannya sebagai bukti penuntutan sekaligus perangkat untuk menyiapkan tindakan keamanan. Ini diperkuat oleh Menteri Dalam Negeri Jerman, Thomas de Maiziere, yang mengatakan bahwa dokumen dapat menjadi peluang bagi pemerintah untuk membuktikan keterlibatan warganya dalam aktivitas teror bersama ISIS. Menurutnya, arsip itu dapat mendukung penyelidikan atas para warga Jerman yang telah tergabung dengan ISIS.
Zaman Alwasl memuat artikel mengenai data pribadi 1736 pejuang ISIS yang berasal dari 40 negara. Menurut media Suriah itu, data mencungkilkan sejumlah hal seperti latar belakang pejuang, kebangsaannya, serta alamat rumah.
Dokumen berstempel rahasia tersebut menunjukkan dua per tiga kekuatan manusia ISIS bersumber dari Arab Saudi, Tunisia, Maroko, dan Mesir. Secara lebih terperinci, laman itu menyebutkan 25 persen anggota ISIS adalah orang Saudi.
Sementara itu, ihwal impor serdadu asing, Turki menduduki posisi pertama dengan diikuti Prancis.
Suriah hanya mengambil porsi 1,7 persen dari jumlah nama yang terdaftar, sementara Irak 1,2 persen.
Lebih jauh, Zaman Alwasl menuliskan bahwa formulir isian berisi 23 kolom yang dimulai dengan nama depan calon martir, kemudian nama akhirnya, diikuti hari kelahiran, dan seterusnya. Para calon pengikut yang menyeberangi perbatasan wilayah kekuasaan ISIS untuk kali pertama mesti menginformasikan petugas perbatasan ISIS mengenai identitasnya. Di situ, mereka akan ditanya: apakah ia ingin menjadi anggota ISIS, pejuang ISIS, atau pelaku bom bunuh diri.
Perkara yang disebut terakhir, ada arsip berlabel “martir” atau syahid yang secara menampilkan nama-nama calon pejuang yang berhasrat melancarkan serangan bunuh diri. Mereka pun terang mendapatkan pelatihan spesifik dalam bidang itu.



Komentar