BIMA : Patroli dan Relawan Jadi Garda Depan Pencegahan Karhutla

Uncategorized62 Dilihat

JAKARTA – Ketua Bidang Lingkungan dan Kebencanaan Barisan Insan Muda, Permana Irmansyah, menegaskan bahwa eskalasi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) seiring datangnya musim kemarau menuntut perhatian serta aksi tanggap dari seluruh elemen. Di saat pemerintah menggencarkan patroli terpadu dan pemanfaatan teknologi pemantauan titik panas, pelibatan publik dinilai menjadi kunci penentu.

Permana memandang bahwa mitigasi karhutla tidak boleh hanya bertumpu pada kebijakan makro pemerintah pusat. Menurutnya, ketahanan daerah mutlak harus dibangun berbasiskan partisipasi aktif masyarakat akar rumput dan organisasi kepemudaan.

“Kesiapsiagaan harus dimulai dari tingkat lokal melalui konservasi sumber air, pengelolaan lahan berkelanjutan, hingga peningkatan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran,” tutur Permana.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya pembentukan jejaring relawan lingkungan, edukasi publik yang konsisten, serta pengawasan ketat terhadap aktivitas pembukaan lahan guna meredam potensi bencana sejak dini. Inisiatif tersebut juga harus dibarengi dengan pemulihan ekosistem secara berkala.

“Inisiatif penanaman pohon di kawasan hulu untuk memperbaiki tata air dan mengurangi erosi,” ujarnya, seraya mendorong gerakan reboisasi demi menjaga keseimbangan hidrologi.

Langkah preventif ini menjadi semakin mendesak menyusul proyeksi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang mengindikasikan adanya potensi defisit curah hujan di berbagai kawasan, meliputi Pulau Jawa, Nusa Tenggara, Sulawesi, hingga Kalimantan.

“Kita harus menjaga ketahanan pangan melalui kolaborasi semua pihak, mulai pemerintah, petani, hingga komunitas lokal,” kata Permana, Selasa (4/8/2026).

Permana optimistis bahwa koordinasi lintas sektor yang solid antara pemerintah pusat, daerah, komunitas, dan warga akan mampu memperkokoh ketahanan kolektif dalam menghadapi musim kering yang ekstrem.

“Pencegahan harus menjadi prioritas utama karena dampaknya jauh lebih luas terhadap lingkungan maupun kesehatan masyarakat,” ujarnya.

Sebagai penutup, ia kembali mengingatkan bahwa efektivitas penanggulangan bencana sangat bergantung pada kesiapan kolektif sebelum musibah benar-benar terjadi.

“Langkah pencegahan jauh lebih efektif dibandingkan penanganan setelah bencana terjadi,” tutupnya.

Komentar