
Tambah Aboe, seorang Kapolri bisa dikatan seorang nakoda harus benar-benar mengetahui kemana arah reformasi Polri akan dibawah. Kapolri harus menjiwai semangat reformasi tersebut, karena kebijakan yang dibuat akan menentukan warna institusi polri.
“Figur Kapolri harus benar-benar paham terutama Polri sebagai pengayom masyarakat, daapat membawah kehidupan harmonis antara TNI/Polri,” harapnya.
Aboe mengajak masyarakat untuk mendukung siapapun yang ditunjuk oleh presiden kita harus bisa menerimanya, karena yang ditunjuk oleh Presiden merupakan Putera Bangsa dan kader terbaik dari Polri.
Dalam kesempatan yang sama Anggota Komisi III dari Fraksi Partai Demokrat Ruhut Sitompul menyetujuai apa yang disampaikan oleh rekan sekomisinya di DPR RI, bahkan Ruhut mengatakan yang pantas mengantikan Jenderal Sutarman Adalah Komjen Budi Gunawan ini dilihat dari sudut kesenioran dan Track record Seorang Budi Gunawan tidak diragukan lagi.
Sedangkan mantan tim sukses Prabowo Subianto, Eggi Sudjana berbeda pandangan, Eggi mengatakan dalam teori pergantian suatu pejabat esekutif, legislatif dan yudikatif, dalam kontek kelembagaan tidak ada polri berada di bawah presiden.
Masih menurut Eggi Polri sebenarnya berada dalam dalam lembaga yudikatif, mulai tahun 2015 Polisi harus menangani kriminalitas yang ada di masyarakat jadi tidak mengurusi terorisme.
“Polri kalau dibawah Presiden maka polisi merupakan kepanjangan tangan pemerintah seperti pemilu kemarin Polri banyak terlibat mendukung salah satu calon dan yang di dukung oleh jajaran Polri adalah Jokowi,” tukasnya.
Beberapa nama figur yang sudah beredar bakal diusulkan menjadi kapolri di antaranya Komjen Badroeddin Haiti, Komjen Budi Gunawan, Irjen Safruddin, Irjen Pudji Hartanto, dan Irjen Unggung Cahyono. (Ray)