Beritaasatu – Ketua DPD Perindo Jakarta Selatan Syarief Hidayatullah mengaku dirinya bergabung ke dalam Partai Perindo adalah untuk memberikan suatu ideologi yang bisa diterima oleh masyarakat Indonesia secara keseluruhan. Bahkan, kata Syarief, dirinya masuk ke Perindo atas dorongan Ketua Umum Dewan Harian Nasional 45 (DHN 45) Jenderal (Purn) Tyasno Sudarto.
“Saya masuk ke Perindo didorong oleh Pak Tyasno untuk membenahi ideologi demi bangsa Indonesia kedepan,” kata Syarief saat diskusi publik bertema “Partai Masa Kini Kering Ideologi” di Guntur 49 Jakarta, Kamis (10/3/2016).
Lebih lanjut, Syarief menegaskan bahwa didalam partai politik itu, ideologi tidak ada yang namanya kering. Justru, kata Sekjen Barisan Insan Muda (BIMA) itu mengingatkan pergolakan ideologi parpol sangat begitu terasa Orde lama, orde baru hingga sekarang. Pergolakan tersebut menandakan begitu pentingnya sebuah ideologi dan begitu bermaknanya dalam setiap nafas perjuangan politik masyarakat yang akan di bawah ke sistem pemerintahan. Ideologi telah menjadi sebuah roh dan identitas partai yang sangat berpengaruh dalam mewakili aspirasi politik msyarakat dalam perjuangan partai politik.

“Kami yakin para kader Partai Perindo tidak miskin dalam ideologi. Contohnya, banyak para aktivis berbagai eleman ikut berbondong-bondong menjadi pengurus Perindo. Inilah bukti bahwa Partai tidak kering dalam ideologi dan malahan kita hari ini terus menumbuhkan kembali ideologi,” terang Syarief.
Lebih jauh, Syarief kurang sependapat jika parpol dianggap kering ideologi, karena dalam membangun parpol, para kader tentunya dibekali ideologi. Syarief merasa yakin Perindo tidak kering akan sebuah ideologi sebagai sandaran perjuangannya. Ia menyayangkan pada sebagian politikus yang menganggap ideologi hanya menjadi sebuah rangkaian kata filosofi indah semata yang di bungkus sebaik mungkin. Bahkan ideologi bukan lagi sesuatu yang di pilih dalam pertarungan politik. Harta, tahta dan kekuasaan menjadi daya tarik utama sebagai garis perjuangan maupun dalam mendirikan sebuah partai politik. Tidak heran jika praktik suap, sogok, menyogok, korupsi dan penyakit masyarakat lainya di pertontonkan ketika menjadi wakil rakyat.
“Inilah yang terjadi jika partai memilih figur pemimpin diluar Partai dan bukan kader partai. Ideologi mereka akan yang dijuluki sang pemimpin malah kering,” pungkasnya.