Suparjo di Narasraya Literasi 2026 : Literasi adalah Kunci untuk Memilah Informasi dengan Bijak

Nasional31 Dilihat

JAKARTA — Ketua Umum Narasraya Raksaka Indonesia, Suparjo, menegaskan literasi adalah kunci untuk memilah informasi dengan bijak, membangun gagasan yang cerdas, serta membentuk karakter bangsa yang berdaya saing. Hal itu disampaikannya dalam kegiatan Narasraya Literasi 2026 yang digelar di Hotel RA Suites, Jalan T.B. Simatupang, Jakarta Selatan, Sabtu (24/10/2026).

“Pengalaman berharga yang dimiliki para senior, ajudan aktif maupun purna, tidak boleh hanya tersimpan dalam ingatan—harus dibagikan kepada generasi muda agar menjadi pelajaran yang berguna bagi kemajuan bangsa,” ujarnya.

Kegiatan ini diselenggarakan sebagai bagian dari peringatan Hari Sumpah Pemuda dengan tujuan memperkuat budaya literasi di kalangan generasi muda. Acara dibuka oleh Ketua Dewan Pembina Narasraya Raksaka Indonesia, Mayjen TNI Choirul Anam, dan dihadiri jajaran pengurus, para narasumber, perwakilan institusi pendidikan, mitra sponsor, serta peserta dari 28 perguruan tinggi negeri dan swasta se-Jabodetabek.

Suparjo menjelaskan pertemuan ini bukan sekadar acara sesaat, melainkan langkah nyata untuk menghidupkan kembali semangat membaca, menulis, dan berpikir kritis di tengah derasnya arus informasi digital.

Dalam kesempatan itu juga dilaksanakan penyerahan secara simbolis bantuan buku bacaan kepada Sekolah Rakyat, yang diwakili Sekretaris Inspektorat Jenderal Kementerian Sosial, Ferry Syahminan. Bantuan tersebut merupakan wujud kepedulian Narasraya Raksaka Indonesia bersama Yayasan Restorasi Jiwa Indonesia dalam mendukung akses bacaan dan pengembangan literasi bagi generasi muda.

Sesi diskusi menghadirkan sejumlah pembicara. Founder Restorasi Jiwa Indonesia, Syam Basrijal, menjelaskan konsep literasi diri sebagai kemampuan memahami pola pikir, mengenali emosi, mengidentifikasi keyakinan yang membatasi diri, serta membangun kesadaran untuk mengubah kebiasaan dan menentukan arah kehidupan.

“Membaca buku membuka jendela pengetahuan. Membaca diri membuka pintu kesadaran. Dan ketika kesadaran menjadi tindakan, di sanalah transformasi kehidupan dimulai,” kata Syam.

Sementara itu, sesi literasi kewirausahaan menghadirkan CEO InKanteen, Zaki Wijaya, yang mendorong para peserta untuk menetapkan tujuan hidup secara jelas, menyusun rencana masa depan, serta berani keluar dari zona nyaman.

“Kalian harus punya tujuan, tuliskan apa yang ingin dicapai lima hingga sepuluh tahun ke depan dan percayalah pada impianmu. Jadikan orang yang meremehkanmu sebagai pendorong untuk membuktikan bahwa segalanya bisa terwujud jika kamu mau bekerja lebih keras,” ujar Zaki.

Hadir pula AKBP Ema Rahmawati, S.IK., yang memaparkan empat dimensi pemuda berdaya, yaitu literasi, kompetensi, integritas, dan kepedulian. Keberdayaan pemuda, menurut Ema, tidak hanya diukur dari prestasi pribadi, melainkan juga dari manfaat yang dapat diberikan kepada lingkungan sekitarnya.

Secara keseluruhan, kegiatan ini membahas pentingnya literasi dalam pembangunan nasional, peran generasi muda dalam menjaga persatuan bangsa, serta strategi membangun ekosistem literasi yang inklusif dan berkelanjutan.

Penyelenggara berharap Narasraya Literasi 2026 menjadi awal gerakan berkelanjutan yang melibatkan lebih banyak pihak, sehingga budaya membaca, berpikir kritis, dan berbagi pengetahuan semakin tumbuh di kalangan pemuda sebagai bekal mewujudkan Indonesia yang lebih maju dan beradab.