Jakarta – Guru Besar UIN Jakarta Mu’ti Ali Al Khusyairi memastikan bahwa Nahdlatul Ulama (NU) akan mendukung pemerintahan Jokowi-JK untuk mengatakan tidak kepada kelompok atau ormas yang ingin mengganti ideologi negara seperti Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).
“NU mendukung pemerintah mengatakan tidak untuk gerakan yang ingin mengganti ideologi negara,” ungkap Mu’ti Ali Al Khusyairi.
Hal itu disampaikan saat seminar bertema Islam dan Peradaban Khilafah, Perlukah ? yang diinisiasi PMII di RM Handayani Matraman Jaktim, Rabu (24/1/2018).
Turut hadir juga narasumber lainnya Aktivis dan Intelektual NU Ahmad Baso dan Eks HTI Ustadz Harist Abu Ulya.
Dikatakan dia, dalam tubuh umat Islam tidak pernah ada penyeragaman pemikiran. Cara berfikir ideologi NU yang diangkat adalah pengembangan keadaban. “Pertanyaannya, bagaimana kita mau mengembangkan peradaban maju apabila tidak ada rasa cinta yang memajukan peradaban di negaranya,” ujarnya.
Maskuri Abdillah melanjutkan bahwa khilafah politik, bukan rukun agama, bukan juga yang masyruk, bukan menjadi patokan rosul, patokan yang di gunakan para ulama apa yang sesuai dengan makosid syariat dan yang terbaik.
“Mencintai agama harus mencintai tanah airnya,” kata dia.
Ditempat yang sama mantan HTI Ustadz Harist Abu Ulya meminta semua pihak untuk tidak phobia mendengarkan kata-kata khilafah. Dari awal terkait khilafah bukan perkara yang asing dan baru dalam kaum muslimin. Khilafah adalah pembicaraan soal politik kepemimpinan.
“Pembubaran HTI oleh pemerintah adalah langkah yang kurang tepat karena pergerakan HTI justru makin sulit dipantau,” pungkasnya.







Komentar