Quraish Shihab Himbau Pemuka Agama Ajarkan Nilai-Nilai Menyejukkan kepada Masyarakat

Nasional242 Dilihat

Jakarta – Mantan Menteri Agama, Muhammad Quraish Shihab, mengatakan bahwa agama mengajarkan bagaimana seharusnya umatnya bersatu dan menganjurkan persatuan. Karena itu, bila ada pihak-pihak tertentu yang menganjurkan perpecahan dengan dalih agama, itu bukan ajaran yang lahir dari agama itu sendiri.

Hal itu disampaikan oleh pakar dan penulis Tafsir Al-Misbah dalam sebuah talkshow bertajuk Merawat Persatuan yang ditayangkan dalam acara Liputan 6 Pagi SCTV, pada Jumat (21/4).

Pernyataan itu disampikan Quraish dalam menjawab pertanyaan presenter SCTV, Nurul Cinta, terkait bagaimana merawat persatuan dan kesatuan bangsa di negeri ini. Karena, sebagaimana bisa dilihat di dalam kontestasi politik elektoral di Pilkada DKI Jakarta, masyarakat tampak terpecah belah hanya karena perbedaan pilihan.

“Ya, bismillahirahmanirrahim, yang pertama, kita harus ketahui bahwa salah satu inti ajaran agama itu adalah kesatuan,” kata Quraish.

Quraish ShihabMenurut Qurasih, di dalam tradisi agama apapun, tidak ada ajaran yang menganjurkan umatnya agar berpecah-belah. Karena hal itu didasarkan pada eksistenti Tuhan Yang Satu. Karena itu pula, maka umat beragama yang berada di bawah naungan agama tersebut, harus bersatu, dan tidak boleh berpecah.

“Bermula dari keyakinan tentang Maha Esa-nya Tuhan, sampai pada kesatuan kemanusiaan, kesatuan berbangsa, bahkan kesatuan jati diri manusia. Sehingga setiap langkah yang dapat memecah persatuan, itu bukan dari ajaran agama. Itu prisipnya seperti itu ya. Tidak ada agama yang tidak menganjurkan persatuan dan kesatuan; tidak ada agama yang merestui perpecahan; tidak ada agama yang membolehkan berpisah setelah menyatu,” tegasnya.

Lebih lanjut, presenter kembali menanyakan mengenai apa yang harus dikedepankan oleh elemen masyarakat dan pemuka agama dalam rangka merawat persatuan dan kesatuan tersebut. Menurut Quraish, solusinya dengan mengajarkan paham nasionalisme, di mana paham tersebut sama sekali tidak bertentangan dengan ajaran agama.

“Salah satunya menampakkan paham nasionalisme. Paham nasionalisme tidak bertentangan dengan agama. Paham nasionalime itu menganjurkan persamaan; menganjurkan penghormatan pada perbedaan-perbedaan yang ada,” terang dia.

Menurutnya, di dalam kontestasi politik seperti Pilkada, maka setiap orang tidak boleh diintervensi pilihan politiknya. Setiap orang harus dibebaskan memilih berdasarkan pilihan hati nuraninya, apapun pilihannya.

“Sehingga kalau lah kita sekarang ini sedang menghadapi pemilihan umum, maka masing-msing harus memberikan kebebasan kepada setiap orang untuk memilih sesuai dengan hati nuraninya. Dan setelah itu dilaksanakan, maka yang berperan pada saat itu adalah Tuhan. Tuhan lah yang menentukan melalui sistem itu yang kita terapkan siapa yang seharusnya menjadi pemimpin,” tegasn dia.

Masih kata Quraish, pehelatan pemilihan pemimpin di negeri ini, hanyalah untuk jangka lima tahun ke depan. Karena itu, dia menghimbau kepada semua pihak agar tidak terpecah belah karena kepentingan lima tehun tersebut.

“Saya ingin mengarisbawahi semua kita harus sadar bahwa setelah mencoblos dengan hati nurani, semua kita harus sadar bahwa pemilihan pimpinan ini hanya untuk lima tahun. Jangan sampai berjuang untuk meraih lima tahun mengakibatkan terpecah-belahnya bangsa ini,” tuturnya.

Quraish juga menyarankan kepada semua pihak, utamanya tokoh agama, agar tidak mempertentangkan apapun hasil pilihan dalam kontestasi politik elektoral dengan ajaran agama yang diyakini oleh umat.

“Tentunya, sunguh sangat penting peranan semua orang utamanya pemuka agama, untuk menjelaskan bahwa kita tidak harus mempertentangkan apapun hasil dari pemilihan yang jujur dengan ajaran agama,” katanya.

Hal itu disampaikan Quraish untuk menghindari adanya perpecahan di dalam tubuh umat atau di tengah-tengah masyarakat luas.

“Memiliki pemerintahan yang otoriter selama 60 tahun, itu lebih baik dari kekacauan dalam sehari,” tegasnya.

“Jadi jangan coba-coba melakukan langkah-langkah yang bisa mengacaukan. Itu sebabya juga dalam ajaran Islam dikatakan, dinisbahkan kepada nabi, pemimpin yang tidak adil itu lebih baik dari kekacauan. Walaupn keduanya buruk, tetapi dalam keburukan itu, kita harus memiliki pilihan. Itu ya yang saya kira harus kita hayati,” sambungnya.

Maka sekali lagi, Quraish mengharapkan kepada para pemuka agama agar menyampaikan hal-hal yang menyejukkan saja kepada umat (masyarakat), termasuk kepada mereka yang telah dengan sengaja atau tidak sengaja telah melakukan provokasi, sehingga masyarakat menjadi terpecah belah karena ulahnya.

“Itu salah satu langkah, tapi saya ingin langkah itu lebih juh lagi, menjamin bahwa apa yang disampaikan tokoh agama yang menganjurkan dan mengajarkan ketenangan dan kedamaian itu betul-betul dihayati oleh masyarakat, sekaligus dapat dipahami dan dihayati oleh orang-orang yang tanpa sandar melakukan provokasi,” tukasnya.