Bogor – Koordinator Jaringan Masyarakat Gunung Salak Arismo SJ menilai demo 4 November 2016 yang berujung anarkis hingga pembakaran mobil dinas Polri dan kendaraan lainnya yang dari uang rakyat itu hingga menjalar aksi penjarahan di Penjaringan Jakarta Utara merupakan momentum agenda setting kelompok tertentu yang merasa resah dengan kehadiran dan kebijakan Pemerintah Indonesia Presiden Jokowi.
“Mereka menggunakan alat masuknya adalah isu penistaan agama,” ungkap Arismo, Minggu (6/11/2016).
Menurut dia, dibalik fenomena itu mensinyalir bahwa simpatisan yang terorganisir Front Pembela Islam (FPI) bukanlah dalang utamanya, melainkan hanya sebagai EO alias pania pelaksana saja. Selain itu, kata dia, FPI dijadikan pintu masuk penghancuran lewat jaringan mereka. Sehingga pihaknya menduga ada dalang dibalik aktor utamanya.
“Kami menduga ya mantan Presiden RI disitu. Kita tahulah bahwa zaman kepemimpinannya, Amerika sangatlah nyaman di Indonesia,” beber dia.

“Karena isu tersebut sangat cocok dengan kultur bangsa Indonesia, sensitif soal isu Agama dan Tuhan. Jokowi mau di lengserkan dengan isu tersebut,” ujarnya.
Dia mengaku aneh dengan sasaran aksi para demonstran tersebut yang mengarah ke Istana Negara dan DPR RI. Kata dia, kenapa demonya tidak di Bareskrim dan DPRD DKI, padahal proses hukumnya sudah masuk ke pihak Kepolisian.
“Kalau bukan soal Jokowi, kenapa tidak demo saja DPRD DKI dan Bareskrim. Kenapa mereka merongrong Istana dan DPR RI, kan tidak masuk akal. Kenapa pula Ahok yang di serang karena Amerika sangat takut dengan ekspansi China,” bebernya.
Dikatakan dia, jika hal itu dibiarkan berlarut maka yang merugi adalah bangsa Indonesia bukan mantan Presiden RI itu, Kelompok FPI, Islam dan Amerika.
“Wahai mantan Presiden RI, saya ingatkan jangan terlalu intervensi rakyat untuk kepentingan kelompok. Bapak ini mantan Presiden, bukan mantan ketua RT, bapak jangan jual Papua ke Amerika lagi. Pak Jokowi sudah benar itu, lanjut kan Presiden Jokowi,” pungkasnya.