Kelas Menengah Indonesia Belum Rasional Bagai Pisau Bermata Dua

Nasional534 Dilihat

Beritaasatu – Penulis senior Gerry Van Klinken asal Leiden, Belanda menyebut kelas menengah merupakan kelas yang menghubungkan antara kelas bawah dan pemerintah yang membentuk kekuasaan politik tersendiri.

AshokaMeski banyak penelitian tentang kelas menengah, namun, kata Gerry, penelitian ini tidak terpaku pada data statistik maupun kemampuan konsumsi seseorang baik menilik dari pendapatan dan pengeluaran serta kepemilikan, tidak juga dilihat dari persepsi masyarakat.

“Penelitiannya berfokus pada perilaku politik kelas menengah yang hidup di kota-kota kecil dengan kemampuan sektor informal dan jaringan komunitas lokalnya melalui studi etnografi dengan pendekatan sosio-antrhopologi,” kata Gerry.

Hal itu mengemuka dalam diskusi bedah buku bertajuk Menelisik Kelas Menengah di Kota-Kota Menengah yang juga membedah bagaimana definisi dan pengaruh keberadan kelas menengah indonesia dalam pembentukan sebuah kekuasaan politik yang diinisiasi Pusat Kajian Ideologi Pancasila yang konsen pada kajian-kajian ideologi dan wawasan Kebangsaan dengan berbasis pada realitas sosial, bekerjasama dengan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), KITLV, Ikatan Mahasiswa Muhamadiyah (IMM) Surakarta dan Yayasan Obor Indonesia, di Surakarta, Selasa (23/2/2016).

Pembahas Taufik Kasturi, Ph.D, dari UMS mengaku sepakat tentang adanya kelas menengah yang menjadi hasil riset dari Gerry Van Klinken tersebut. Kelas menengah menjadi salah satu faktor penentu keberlangsungan dinamika politik di tempat kelompok tersebut berada.

Diskusi bedah buku yang diikuti oleh seratusan mahasiswa dan civitas akademika UMS ini diawali oleh sambutan Miftakhul Saleh alumnus UMS sekaligus perwakilan dari Pusat Kajian Ideologi Pancasila yang mempertanyakan juga soal ideologi apa yang dimiliki oleh kelas menengah?

Pada akhir dialog, Dr. Muhammad Da’i selaku penanggap utama perwakilan dari pihak UMS mengatakan kelas menengah Indonesia masih belum jelas definisinya dan lebih condong sebagai floating mass.

Hal senada diungkapkan oleh ketua umum Pusat Kajian Ideologi Pancasila Ashoka Siahaan, bahwa kelas menengah di Eropa memiliki rasionalitas sedang kelas menengah Indonesia masih belum rasional sehingga bagai pisau bermata dua. Dimana pada suatu kondisi dia mampu menjadi agent of change dalam memperjuangkan kelas bawah dihadapan pemerintah, namun disisi lain dia menjadi pihak yang mengambil bagian dari kebijakan dan peran pemerintah dalam menindas kelas bawah.

“Sehingga perlu adanya sentuhan ideologi bangsa yakni Pancasila,” ujarnya.

Gerry pun memberikan beberapa kesimpulan antaralain kelas menengah indonesia adalah kelas yang mencintai negara bagi yang rasional dan bernalar kritis, mereka menolak pasar bebas dan mengharap proteksi pemerintah, suka dengan proses demokrasi dan penguasaan daerah dengan kekuatan sektor informal.

Sebagai penutup, Warseno, SE yang bertindak sebagai moderator menyimpulkan bahwa realitas kelas menengah Indonesia dewasa ini cenderung menjilat keatas dan menginjak kebawah.

Oleh karena itu jika tidak diperkuat dengan ideologi terbuka dan kritis maka akan menghilangkan keberpihakan terhadap masyarakat kelas bawah.