Diguncang Gempa 6,3, Masyarakat Malang Berhamburan Keluar Rumah

Nasional210 Dilihat

MalangBeritaasatu – Masyarakat Malang gempar berhamburan keluar rumah, setelah gempa berkekuatan sekitar 6,3 skala ritchter mengguncang Malang, Minggu (26/7/2015)

Mereka merasa ketakutan saat gempa itu menggoyang Malang beberapa detik lamanya. Gempa itu terjadi sekitar pukul 14.05 WIB.

“Gempanya keras sekali, anak saya langsung saya bawa keluar,” kata Ariani, warga Jalan Murcoyo Desa Gondanglegi Kecamatan Gondanglegi Kabupaten Malang.

Siang itu, sebagian warga segera berlarian keluar rumah ketika gempa terjadi. Gempa dirasakan susul menyusul sebanyak dua hingga empat kali dalam beberapa detik. “Yang terakhirnya rasanya keras sekali,” katanya.

Setelah gempa usai, warga tak mau segera masuk ke dalam rumah. Mereka lebih memilih berada di halaman rumah selama beberapa saat.

“Sampai saat ini belum ada laporan soal dampak gempa itu. Kita harapkan semuanya aman-aman saja,” kata Sekretaris PMI Kabupaten Malang, Mujiono.

Kepala Pusat Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho, dalam keterangan tertulisnya mengatakan, Pusat gempa berada di Samudera Hindia pada kedalaman 10 kilo meter (km) di 150 km Barat Daya Kabupaten Malang, 163 km Tenggara Kabupaten Blitar, 168 km Barat Daya Lumajang, dan 253 km Barat Daya Surabaya.

“Gempa tersebut tidak berpotensi tsunami,” ujar Sutopo.

Menurut Sutopo, lima menit setelah menerima informasi tersebut, Posko BNPB langsung mengoonfirmasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan melakukan analisis dampak gempa.

“Guncangan gempa dirasakan sedang hingga kuat oleh masyarakat di sepanjang pesisir selatan Jawa Timur mulai dari Pacitan, Trenggalek, Tulungagung, Blitar, Lumajang, Jember dan Banyuwangi. Bahkan gempa dirasakan di Yogyakarta, Jawa Tengah dan Bali,” kata Sutopo.

Lebih lanjut, Sutopo menjelaskan,Beberapa laporan sementara dari BPBD, gempa dirasakan kuat selama lima detik di Kabupaten Malang, Gempa dirasakan kuat selama enam detik di Kabupaten Blitar dan gempa dirasakan kuat selama empat detik di Kabupaten Lumajang.

“Belum ada laporan korban jiwa dan kerusakan. BPBD masih memantau kondisi di lapangan,” kata Sutopo.

Sutopo juga mengungkapkan, lokasi gempa berada pada zona subduksi atau pertemuan lempeng Hindia Australia dan lempeng Eurasia.

“Lokasi ini masih satu zona dengan gempa 5,7 SR yang terjadi, Sabtu kemarin. Zona ini memang rawan gempa yang bergerak rata-rata 5-7 cm per tahun ke arah Timur Laut-Utara,” ujar Sutopo.

Menurutnya, Potensi gempa maksimum di Jawa Megathrust di selatan Jawa sekitar 8,1 – 8,2 SR. Dari Selat Sunda hingga Bali sepanjang jalur Jawa Megthrust tersebut baru di selatan Pangandaran (7,8 SR, tahun 2006) dan selatan Banyuwangi (7,8 SR, 1994) yang pernah terjadi gempa besar dan tsunami dalam kurun waktu 165 tahun terakhir.

“Masyarakat diimbau untuk terus meningkatkan kesiapsiagaan. Gempa dapat terjadi tiba-tiba. Semoga gempa 6,3 SR tidak mempengaruhi peningkatan aktivitas Gunung Raung,” ujar Sutopo.