Ini Kriteria Kandidat KaBIN yang Ideal

Nasional241 Dilihat

BIN-Jokowi-JKBeritaasatu – Kandidat Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) yang ideal tidak harus dilihat dari latar belakangnya, tapi lebih penting kompetensinya di dunia intelijen.

“Seorang Kepala BIN harus mempunyai pengendalian agen lapangan sekaligus matang dalam analisa hasil laporan anak buahnya,” demikian disampaikan Menurut Analis Intelijen The Indonesia Intelligence Institute Ridlwan Habib, saat diskusi bertema mencari sosok Kepala BIN Ideal di Ladang Kopi, Jakarta Selatan, (28/4/2015).

Menurut Alumni S2 Kajian Stratejik Inteijen Universitas Indonesia itu, sebelum dilaporkan kepada pengguna BIN yakni Presiden, semua laporan harus melewati Kepala BIN.

Ridlwan pun menyebutkan nama-nama kandidatnya yang dianggap mumpuni mengisi jabatan strategis itu.

Pertama, Letjen (Purn) Marciano Norman (61) pria kelahiran Banjarmasin, Kalimantan Selatan 28 Oktober 1954. Marciano pernah menjadi Direktur Analisa Lingkungan Strategis Kementerian Pertahanan, Pangdam Jaya, Komandan Paspampres, Dankodiklat dan saat ini masih menjabat sebagai Kepala BIN sejak 19 Oktober 2011 hingga sekarang.

Marciano dianggap mempunyai kelebihan yakni teruji dalam Pemilu 2014. Kondisi NKRI relatif kondusif dan gejolak dan tidak ada kejadian luar biasa terkait pemilu.

Menurutnya, BIN di era Marciano juga lebih terbuka terhadap media massa di antaranya dengan jumpa pers dan kunjungan media. Juga perbaikan di website www.bin.go.id yang mudah diaskes.

Kemudian, lanjut dia, kandidat berikutnya Dr (HC) As’ad Said Ali (66) lahir di Kudus, 19 Desember 1949. Pernah menjabat sebagai Wakabin, saat ini As’ad menjabat sebagai Wakil Ketua PB Nahdatul Ulama.

Kelebihan As’ad dinilai sangat ahli tentang BIN karena berkarir di lembaga tersebut sejak 1974 atau 40 tahun pengabdian. Dirinya dianggap mengetahui karakter dan seluk beluk BIN secara mendalam.

As’ad juga lama menjalani penugasan di Timur tengah dan paham tentang gerakan Islam yang bermacam-macam mazhan dan aliran.

Selanjutnya, Mayjen (purn) Tubagus Hasanuddin lahir di Majalengka 8 September 1952. Alumni Akabri 1974. Pernah menjadi ajudan Wapres Try Sutrisno, ajudan BJ Habibie, dan Sekretaris Militer Presiden (Sekmilpres) Megawati Soekarno Putri. Sekarang anggota Komisi 1 DPR.

Ia menilai, TB Hasanuddin memahami intelijen terutama intelijen militer. Kiprahnya sebagai anggota DPR di Komisis I sejak tahun 2009 dianggap memungkinkan TB memahami celah-celah kekurangan BIN sebagai lembaga.

Selanjutnya, Marsadya (pur) Ian Santoso P (67), yakni putra pahlawan nasional Halim Perdanakusuma. Lahir di Madiun 17 Juli 1948. Alumni Akabri 1970. Dirinya pernah menjadi Atase Pertahanan KBRI Singapura, Pangkosekhanudnas, Pangkoops AU dan ka BAIS.

Selain itu, Ian santoso pernah menjadi ka BAIS sehingga diniali sangat memahami dunia intelijen. Ian juga tercatat sebagai salah satu purnawirawan jenderal yang lendukung Jokowi-JK dalam Pilpres 2014. Ian adalah sahabt baik Menhan Ryamizard Ryacudu.

Letjen (purn) Sutiyoso (70) alumni Akabri 1968. Kelahiran semarang 6 desember 1944. Pernah menjabat sebagai Wadanjen Kopassus, Kasdam, Pangdam Jaya, dan Gubernur DKI.

Sutiyoso lama di baret merah dan memahami baik tentang intelijen, terutama intelijen militer. Sutiyoso juga politisi yang mendukung Jokowi-JK pada Pilpres 2014.

Terakhir, Letjen Pur Sjafrie Sjamsoedin lahir di Makassar 30 oktober 1952. Lama berkarir di Kopassus, pernah menjabat Kapuspen tNI dan Wakil Menhan$

Sjafrie dinilainya memahami Inyelijen terutamaintelijen militer. Ia kenal ramah dan mudah diaskes oleh media maasa.