Beritaasatu – Presiden Joko Widodo mengaku belum memperoleh informasi yang rinci terkait hilangnya 16 warga negara Indonesia di Turki. Jokowi menduga ke-16 peserta tur yang memiliki paspor Surakarta dan Surabaya itu direkrut oleh jaringan Negara Islam Irak Suriah (ISIS).
“Sampai saat ini kami belum mendapat informasi secara pasti, tapi ada dugaan mengacu ke sana (ISIS),” kata Jokowi di Bandar Udara Halim Perdanakusumah, Sabtu, 7 Maret 2015. “Sampai sekarang belum ada informasi yang akurat mengenai itu.”
Rabu kemarin, Kepala Badan Intelijen Negara Marciano Norman mengatakan sedang menyelidiki modus baru rekrutnen anggota ISIS. Modus baru yang dimaksud adalah membawa keluar warga negara Indonesia menggunakan biro perjalanan.
Lembaganya, kata Marciano, sudah menggandeng Kepolisian dan lembaga intelijen Turki guna melacak keberadaan 16 orang itu. Rombongan yang menggunakan travel Smiling Tour ini berangkat dari Jakarta pada Februari 2015.
Jumlah rombongan tur ini awalnya mencapai 25 orang dengan menumpang pesawat Turkish Airlines TK 67 dan tiba di Bandara Turkish International Ataturk, Istanbul. Namun setibanya di bandara, 16 orang menyampaikan kepada pimpinan tur akan berpisah dari rombongan. Hingga saat ini, keberadaan mereka tak diketahui.
Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Istanbul telah meminta bantuan kepolisian setempat. Kepolisian Istanbul mulai melakukan investigasi soal ini. Kasus seperti ini bukan pertama kali terjadi dan ditangani kepolisian setempat. Beberapa kasus sebelumnya melibatkan warga negara lain yang menyusup ke Suriah melalui perbatasan Turki.







Komentar