Bom Sarinah, Gak Benar Kalau Polisi Kecolongan. Kalau Gak Mau Kecolongan Ya Lakukan Ini

Kriminal170 Dilihat

Beritaasatu – Tenaga Ahli di Puslitbang Polri Hermawan Sulistyo menegaskan insiden Bom Sarinah itu bukanlah sebuah kecolongan dari aparat Kepolisian.

Teror SarinahMenurut Hermawan, yang namanya kecolongan itu jarak waktu penanganan oleh petugas dari meledaknya bom yang pertama ada jeda yang lama.

“Yang namanya kecolongan itu jarak waktunya 1 jam atau kalau bomnya sudah meledak semua. Ini kan tiga menit sudah ada tindakan dan bom belum meletus semua. Kecuali diluar bom bunuh diri dan dalam cafe. Kalau bom bunuh diri itu hancur, ini kan ditembak,” tegas Hermawan, di Warung Daun, Sabtu (16/1/2016).

Lebih lanjut, Direktur Eksekutif RIDeP itu mengungkapkan jika dalam bahasa sastra itu ada istilah ‘menunggu godod’. “Kita menunggu yang tidak jelas kapan datangnya. Kalau dibilang kecolongan kenapa bisa beres dalam 11 menit?,” bebernya.

Ia pun mengaku heran dengan pihak yang menyebut itu kecolongan. Kata dia, kalau tidak mau kecolongan, sebaiknya orang yang punya indikasi perlu di tangkapin saja.

“Biar gak dibilang kecolongan dan orang berjenggot ditangkap semua,” ungkapnya.

Namun bagi dia, rakyat Indonesia beruntung memiliki dua pimpinan puncak yang ahli soal terorisme. Dua pimpinan itu adalah Menkopolhukam Luhut P Panjaitan dan Kapolda Metro Jaya Tito Karnivian.

“Keduanya itu jagoan bukan orang sembarangan, dan masternya ahli teroris. Kalau gak ada mereka bisa jadi tiap hari ada Bom,” pungkasnya.