Akankah Kapolri Jend Badrodin Haiti Kelak Tiru Hoegeng dan Gadjah Mada

Hukum142 Dilihat

LVNQG3w5pJBeritaasatu – Puluhan jenderal terbaik Polri telah duduk sebagai Kapolri. Tapi, meski selalu berganti, ingatan kolektif publik selalu saja menempatkan Kapolri Jenderal Hoegeng sebagai sosok Kapolri ideal.

Atau bahkan menempatkan Mahapatih Gadjah Mada yang hidup di era Kerajaan Majapahit dan menjalankan fungsi kepolisian itu. Dan patung Sang Mahapatih berdiri tepat di pojok Mabes Polri, sebagai sosok polisi yang hebat.

Lalu, kini, ingin dikenang sebagai sosok Kapolri seperti apakah Jenderal Badrodin Haiti kelak?

“Polisi itu shadow of civilization, bayangan peradaban, kalau polisi seperti ini itu artinya masyarakatnya ya seperti ini. Semangat reformasi birokrasi yang kita lakukan itu sebenarnya sudah banyak kemajuan tapi tuntutan masyarakat terus meningkat, sehingga masih tidak imbang,” jawab Badrodin pada sejumlah media, termasuk Beritasatu.com, yang menemuinya di ruangannya Kamis (23/4).

Sehingga, mantan Kapolda Jatim ini melanjutkan, legacy yang ingin dia tinggalkan sebagai seorang Kapolri tidak akan muluk-muluk. Tidak menjadi seperti Kapolri Jenderal Hoegeng yang dikenal bersih itu atau seperti Mahapatih Gadjah Mada yang terkenal hebat itu.

“Tidak muluk-muluk. Saya ingin menciptakan polisi yang baik secara internal dengan tidak melakukan pelanggaran, itu sudah cukup berarti. Yang sulit itu menertibkan internal karena ada faktor struktural yang tidak bisa kita selesaikan yaitu kurangnya anggaran,” katanya.

Anggaran yang kurang itu misalnya soal BBM mobil patroli yang setiap tahunnya hanya cukup untuk 200 hari padahal polisi dituntut masyarakat untuk tetap patroli selama 365 hari tanpa pernah mengerti kurangnya anggaran itu.

“Lalu yang 165 hari, anggota dapat darimana? Akhirnya cari-cari. Ini saja bisa berkurang, itu sudah bagus. Belum lagi biaya penyidikan yang juga kurang dan masih banyak lagi. Anggaran Polri itu memang besar tapi 67 persennya sudah habis untuk belanja pegawai, 22 persennya baru untuk belanja barang atau operasi,” bebernya.

Makanya, Badrodin pun mengaku naif jika dia bisa memberantas seluruh perilaku miring anggotanya secara total 100 persen, mengingat belum ada politik anggaran yang mendukung perbaikan polisi secara menyeluruh karena keterbatasan negara.

“Berkurang saja sudah bagus. Maka kuncinya, untuk memaksimalkan anggaran, saya memerintahkan untuk efisiensi. Sekaligus melakukan penertiban internal. Tugas polisi itu mulia biar kita dihujat seperti apapun maka masyarakat pasti membutuhkan,” lanjutnya.

Untuk itu, Badrodin berpesan, siapa saja yang ingin memilih polisi sebagai profesi, maka mereka harus siap untuk tidak kaya karena, menurutnya, untuk menjadi kaya ya jadi pengusaha.