Jakarta – Gerakan Manusia Pancasila (GEMPA) mengingatkan agar kelompok buruh tidak terjebak dalam permainan politik maupun komoditi politik. Ketua Umum GEMPA Willy Prakarsa meminta agar buruh fokus menyuarakan aspirasinya dalam beberapa aspek perjuangan saja misalnya aspek regulasi dalam upaya penghapusan sistem outsourcing atau pencabutan Peraturan Pemerintah (PP) No. 78 tahun 2015 tentang Pengupahan.
Hal itu dilontarkannya untuk menyikapi aspirasi kaum buruh jelang peringatan hari buruh sedunia yang jatuh pada 1 Mei mendatang.
“Jika ingin masuk ke ranah politik, lebih baik dirikan saja partai buruh untuk menyalurkan wadahnya. Jika tidak ya fokus saja pada perbaikan internal,” tegas Willy, Selasa (19/4/2016).
Lebih lanjut, mantan Aktivis 98 ini pun menyarankan agar pelaksanaan peringatan May Day yang bakal puluhan ribu buruh dari berbagai Provinsi akan turun kejalan itu dapat diisi dengan kegiatan- kegiatan sosial di lingkungan perusahaannya.
“Perayaan istimewa bagi buruh ini diharapkan dapat diisi dengan kegiatan sosial kemasyarakatan di lingkungan perusahaan daripada aksi demo cenderung ada provokasi dan berakhir anarkis,” ujarnya.
Selain itu, Willy meminta agar hari libur May Day nanti juga diisi dengan kegiatan yang bersifat positif, misalnya bakti sosial, seminar, lokakarya, bazzar, donor darah, panggung gembira, olahraga serta mengefektifkan sikap saling pengertian dan kerjasama dengan pengusaha. Namun, Willy juga mendorong agar tercipta ruang dialog yang lebih terbuka antara pengusaha dan para pekerja/buruh sehingga segala aspirasi pekerja/buruh dapat diserap dan dikomunikasikan dengan baik.
“Buruh dan pengusaha adalah partner bersama untuk ciptakan keadaan yang dinamis melalui perjuangan perbaikan regulasi, meningkatkan kesejahteraan pekerja dan produktivitas kerja,” terang dia.
Masih kata Willy, dengan komunikasi yang baik antara pekerja dan pengusaha, maka akan tercipta hubungan industrial yang harmonis sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan pekerja dan keluarganya serta meningkatkan produktivitas kerja. Ia kembali menyayangkan jika aksi ribuan buruh yang turun kejalan itu tidak menghormati hak-hak orang lain. Lebih baik berikan pandangan yang positif ke masyarakat dan berikan contoh yang baik dimata generasi muda.
“Untuk kesekian kalinya, saya sangat menyayangkan sekali jika aksi ribuan buruh yang turun kejalan itu mengakibatkan kemacetan cukup panjang. Jangan beri perspektif negatif yang merugikan pengguna jalan lainnya,” pungkasnya.













Komentar