Rakyat Miskin Gelar Aksi Piket #TagihJokowi di Depan Istana

Ekonomi408 Dilihat

Beritaasatu – Puluhan massa dari beberapa aliansi rakyat Miskin diantaranya Jaringan Rakyat Miskin Kota (JRMK) Jakarta, Serikat Becak Jakarta (Sebaja), Kelompok PKL Jakarta, dan Urban Poor Consortium (UPC), melakukan aksi Piket #TagihJokowi Hari ke-3 di depan Istana Negara, Jakarta, Rabu (16/3/2016).

Mereka ingin bertemu dengan Presiden Jokowi dan menagih komitmen dalam kontrak politiknya saat maju sebagai calon Gubernur DKI Jakarta, dan calon Presiden RI dengan rakyat miskin di 7 kota tergabung dalam Jejaring Rakyat Miskin Indonesia (Jerami) dan UPC.

Tagih JanjiDalam aksinya itu, mereka berhasil dihadang oleh petugas keamanan dari Polres Metro Jakpus saat nekat hendak menerobos pagar Istana Negara, Jakarta.

“Saya kecewa dengan komitmen Pak Jokowi, 10 hari lalu kami sudah kirim surat kepada Pak Jokowi dan ingin diagendakan pertemuan. Kami hanya ingin menuntut agar Jokowi komitmen akan kontrak politiknya saat maju sebagai calon Gubernur DKI dan calon Presiden RI,” ungkap Koordinator aksi Rasdullah.

Lebih lanjut, kata Rasdullah, pihaknya juga berencana menyampaikan beberapa poin yang tertera dalam naskah kontrak politik baik di 2012 maupun 2014 adalah adanya komitmen untuk melakukan penataan kampung-kampung miskin, geser bukan gusur dan perlindungan bagi pekerja di sektor informal seperti tukang becak dan pedagang kaki lima.

“Kedua momentum itu rakyat miskin kota berjibaku dari rumah ke rumah mengumpulkan suara untuk kemenangan Jokowi,” ucap dia.

Setelah Jokowi menjadi Presiden, lanjut Rasdullah, nasib rakyat miskin tidak berubah bahkan bertambah buruk. Pihaknya juga mengutuk keras kebijakan Gubernur DKI Jakarta yang gemar menggusur dan merendahkan martabat rakyat miskin. Pada tahun 2015 terdapat 113 penggusuran paksa yang mengorbankan 8.145 KK dan 6.283 unit usaha (Data LBH Jakarta). Selain itu, tambah Rasdullah, penggarukan becak yang sebelumnya sempat terhenti, kembali marak dan hingga Februari 2016 lebih dari 500 becak telah digaruk oleh Pemprov DKI. Gubernur DKI seharusnya mengedepankan solusi bersama yang lebih jangka panjang dan menghindari kekerasan.

“Solusi ini hanya akan menguntungkan semua pihak jika semua pihak tersebut diajak bicara terutama kepada yang miskin,” terang dia.

Terkait banyaknya kasus penggusuran dan penggarukan ini, sambung Rasdullah, Presiden Jokowi masih belum ada tindakan ataupun pembelaan kepada rakyat miskin padahal ada janji politik yang mengikat.

Ia pun mengancam akan terus melanjutkan aksi piket menagih janji Jokowi didepan Istana Negara. Aksi ini akan berjalan setiap hari (Senin-Jumat) diikuti oleh para tukang becak, ibu rumah tangga dan pedagang kaki lima secara bergantian sampai Jokowi memberikan jadwal pertemuan untuk membahas solusi penataan kampung miskin dan perlindungan bagi sektor informal.

“Kami berharap Jokowi mengingat kembali janji politiknya dan segera menemui kami dan segera ada tindakan untuk menghentikan penggusuran dan penggarukan kemudian dicari solusi terbaik,” pungkasnya.