Beritaasatu – Harga minyak dunia jatuh di kisaran 30 dolar amerika per barel, bahkan beberapa hari lalu sempat berada di bawah 27 dolar amerika per barel, untuk pertama kalinya sejak 2003. Investor merasa khawatir bahwa pasokan minyak mentah kelebihan pasokan bisa bertahan lebih lama.
Seperti dikutip dari Reuters, Kamis 21 januari 2016 minyak telah jatuh lebih dari 25% sepanjang tahun ini, atau penurunan paling dalam sejak krisis keuangan. Namun, mereka terus memompa lebih banyak minyak sehingga pasar kelebihan pasokan.
Meski demikian, pemerintah yang pada Desember lalu sudah menurunkan harga BBM beberapa ratus rupiah, sepertinya belum berencana menurunkan harga BBM lagi. padahal, penurunan harga BBM diharapkan sejumlah kalangan bisa menaikkan daya beli masyarakat yang pada akhirnya bisa meningkatkan perekonomian bangsa.
Tidak hanya itu, bahkan, kemungkinan harga BBM kita akan naik lagi karena pemerintah berencana menerapkan pungutan tambahan di komponen harga BBM yaitu pajak karbon untuk setiap liter BBM yang dibeli masyarakat. Dalihnya, pajak karbon itu untuk menjaga agar penggunaan BBM tidak terlalu berlebih. Padahal, saat ini sudah ada 5 komponen pajak dan retribusi yang dikenakan ke konsumen. Yakni Margin Keuntungan SPBU 270 rupiah per liter, Margin keuntungan Pertamina 324 rupiah per liter, pajak daerah 100 rupiah per liter, PPN 10 persen, dan Pajak bahan bakar kendaraan bermotor 5 persen.
Pengamat ekonomi Ichsanudin Noorsy melihat penurunan harga minyak dunia akibat adanya perang ideology ekonomi. “Perang ideologi ini menggunakan komponen ekonomi yaitu nilai tukar, komoditas, suku bunga serta inflasi dan dimaksudkan untuk mempertahankan dominasi kekuatan Amerika di dunia dari segi ekonomi,” ujar dia, Kamis (28/1/2016).
Dampak bagi Indonesia, menurut Ichsanudi Noorsy adalah, pemerintah tidak lagi dapat menggunakan asumsi harga minyak sesuai APBN 2016.
“Penurunan harga minyak ini akan membuat menurunnya pendapatan sehingga pertumbuhan ekonomi pun diperkirakan hanya sekitar 5 persen,” ungkapnya.
Sementara itu, Wakil Ketua Bid Distribusi dan Logistik Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia Kyatmaja Lookman, mengemukakan meskipun komponen terbesar untuk pengiriman barang adalah BBM, yaitu sekitar 30 hingga 40 persen, namun penurunan harga bbm tidak berdampak signifian.
“Hal ini akibat penurunan BBM tidak membuat harga produk-produk lain seperti produk minyak pelumas dan ban mengalami penurunan,” ujarnya.
Kyatmaja menambahkan bila ingin meningkatkan daya beli masyarakat maka yang harus dilakukan adalah mengatur tata kelola logistik.
“Salah satunya adalah membuat barang yang akan diangkut itu adalah barang jadi,” pungkasnya.







Komentar