HIPMI Dorong UMKM Optimalkan Internet

Ekonomi192 Dilihat

hipmiBeritaasatu – Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk mengoptimalkan layanan internet. Tujuannya, agar tercipta daya saing yang semakin kompetitif menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) tahun 2015.

Hal itu diungkapkan oleh Ketua Badan Otonom Bidang Bisnis, Investasi dan UKM Badan Pengurus Pusat (BPP) HIPMI Hardini Puspasari dalam siaran persnya, di Jakarta, Kamis (7 Mei 2015).

“Kami mendorong anggota HIPMI dan pelaku UMKM di seluruh Indonesia untuk mengoptimalkan layanan internet dalam menghadapi MEA 2015 yang sudah di depan mata,” ujarnya.

Ia menjelaskan, keterhubungan informasi dengan internet di seluruh dunia kini semakin mudah diperoleh oleh siapapun. Termasuk jika pelaku UMKM ingin mempromosikan produk-produk unggulannya melalui layanan internet. Karena itu, momentum untuk mengembangkan diri dan meningkatkan daya saing usaha harus ditingkatkan dengan mengoptimalkan layanan internet yang kini semakin menjamur di seluruh Indonesia.

Meski demikian, kata dia, harus diakui bahwa masih ada wilayah di pedalaman Indonesia yang belum tersentuh oleh akses internet. Namun, upaya mendekatkan diri ke akses internet dan mengoptimalkan layanannya yang tersedia, sudah harus dimulai.

“Artinya, pelaku usaha yang ada di wilayah belum terjangkau internet, bisa mendekatkan dirinya ke daerah yang telah memiliki akses. Sekaligus mengoptimalkan layanannya untuk meningkatkan daya saingnya,” jelas Dini, panggilan karib Hardini.

Manfaatkan Momentum

Hardini menjelaskan, dorongan kepada pelaku UMKM untuk mengoptimalkan layanan internet didasarkan pada 5 momentum tepat yang harus diberdayakan.

Pertama, momentum dari adanya peraturan yang mewajibkan perbankan umum harus menyalurkan kredit kepada UMKM, dengan porsi minimal 20% dari total kredit pada awal tahun 2019 mendatang.

“Penyaluran kreditnya dilakukan secara bertahap, dan mulai tahun ini sebesar 5% dari total kredit perbankan. Sampai akhirnya mencapai 20% dari total kredit perbankan pada 2019,” jelas Dini.

Kedua, momentum peningkatan pertumbuhan pengguna internet di Indonesia yang mencapai 88,1 juta pengguna internet pada tahun 2014, menurut survei Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII). Angka ini mewakili 34,6% dari keseluruhan populasi negara. Artinya, masyarakat semakin melek informasi melalui internet.

Ketiga, meningkatnya kreatifitas masyarakat dalam mengelola perekonomian lokal. Misalnya, keripik sehat dan bergizi yang berasal dari berbagai bahan baku seperti jangkrik, bayam, dan jenis sayuran lainnya.

“Dengan mengoptimalkan layanan internet, jenis usaha kreatif seperti ini bisa mendunia. Implikasinya kan juga akan meningkatkan perekonomian daerah setempat dan nasional,” katanya.

Keempat, momentum peningkatan jumlah wisatawan domestik dan mancanegara yang mengunjungi tempat-tempat tertentu di pelosok Indonesia. Artinya, momentum optimalisasi layanan internet juga berfungsi sebagai media promosi murah, cepat, efektif, dan efisien untuk memperkenalkan produk-produk UMKM dan tempat wisata unggulan di daerah tersebut.

Kelima, momentum peningkatan keinginan masyarakat dan kalangan muda untuk memulai usaha sendiri. Salah satu indikatornya terlihat dari nilai kredit yang disalurkan pemerintah ke sektor UMKM mencapai Rp 662 triliun hingga Februari 2015. Angka itu tumbuh 9,56% selama setahun. Jumlah itu sekitar 17,9% dari total penyaluran kredit yang ditargetkan pemerintah.

“Karena itu, kami mendorong pelaku UMKM untuk cerdas mengoptimalkan kemajuan teknologi internet untuk meningkatkan daya saing usahanya. Dengan begitu, kita siap dan tidak perlu khawatir menghadapi MEA 2015,” papar Hardini.

Kerjasama Sinergi

Ia menambahkan, pihaknya akan berupaya menjalin kerjasama sinergi dengan beberapa kementerian terkait untuk mendukung pemikiran tersebut. Diantaranya, kata dia, menjalin kerjasama dengan Kementerian UMKM untuk memfasilitasi pelaku UMKM mendapatkan kredit perbankan yang memadai dan dibutuhkan.

“HIPMI akan memfasilitasi upaya pemberian kredit itu bagi anggota HIPMI dan pelaku UMKM lainnya, sebagai bagian edukasi dan dukungan HIPMI bagi perekonomian nasional,” terang dia.

Kemudian, lanjutnya, menjalin kerjasama dengan Kementerian Pariwisata untuk memberikan pelatihan dan pengetahuan komprehensif bagi pelaku UMKM agar menjadi “agen” bagi industri pariwisata di Indonesia. Sekaligus juga untuk mempersiapkan lokasi wisata unggulan di setiap wilayah Indonesia, dalam rangka menarik datang wisatawan.

Berikutnya, kata dia, adalah menjalin kerjasama dengan Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) dalam mengembangkan infrastruktur internet di seluruh wilayah Indonesia. Apalagi, tambahnya, Kementerian Kominfo bertekad untuk menuju masyarakat informasi Indonesia.

“Jadi sebenarnya, dengan sinergi yang kita lakukan ini, insya Allah HIPMI bisa menorehkan sejarah dan tinta emas dalam perekonomian daerah dan nasional. Yang penting adalah, ada sinergi antara pusat dan daerah, serta kemauan kuat pelaku UMKM untuk didukung,” tambah Hardini.

Langkah Konkrit

Upaya mewujudkan dukungan terhadap pelaku UMKM di seluruh Indonesia, Hardini menyatakan pihaknya telah menyiapkan langkah konkrit. Hal ini, katanya, penting sebagai bentuk rencana aksi dari program yang diusulkan dalam meningkatkan kinerja dan daya saing produksi UMKM di daerah.

Ia mengatakan, Badan Otonom Bidang Bisnis, Investasi dan UKM BPP HIPMI telah menyiapkan infrastruktur pendukung, yaitu koneksitas hingga ke seluruh penjuru dunia, dengan nama UKM Business, Trade, and Investment Center.

Tujuannya, tambahnya, untuk mendukung pelaku UMKM di Indonesia dalam mempromosikan produk-produk unggulannya ke seluruh dunia melalui fasilitas internet. Bahkan pihaknya juga telah menyiapkan tenaga-tenaga ahli yang akan memfasilitasi pelaku UMKM saat akan mempromosikan produknya di luar negeri.

“Intinya, kami sudah siapkan seluruh infrastruktur pendukung untuk mewujudkan peningkatan dan daya saing produk pengusaha muda di seluruh dunia,” tutup Hardini.