Jakarta,Rabu (06/05/2015)–Sepanjang kuartal I-2015, pertumbuhan ekonomi nasional hanya tumbuh sebesar 4,7%. Sejumlah sektor ekonomi belum mampu mendorong pertumbuhan ekonomi tumbuh lebih atraktif sebab mengalami penurunan pertumbuhan.
Meski demikian, beruntung, perekonomian masih ditopang oleh sejumlah sub-sektor industri kreatif yakni informasi dan komunikasi yang pertumbuhannya sangat tinggi dalam satu tahun terakhir. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), setahun ini, pertumbuhan paling tinggi adalah informasi dan komunikasi sebesar 10,53%, disusul sektor jasa lainnya tumbuh 8%, seperti pelayanan wisatawan, biro perjalanan, dan lainnya.
Ketua Bidang Ekonomi Kreatif, Kesehatan, dan Telekomunikasi BPH Himpunan Pengusaha Muda Indonesia Yaser Palito mengatakan pertumbuhan sub sektor industri kreatif ini ditopang oleh daya beli yang kuat dari kelas menengah. “Menurut kajian Hipmi, kuatnya pertumbuhan di industri informasi dan komunikasi ini tidak lepas dari peningkatan jumlah kelas menengah tiap tahun, stabilnya daya beli kelas menengah, serta kebutuhan akan informasi dan komunikasi di kelas menengah semakin primer,” papar Yaser.
Yaser mengatakan, Indonesia mengalami penambahan kelas menengah sangat cepat yakni sebanyak tujuh juta jiwa per tahun. “Pada 2010 kelas menengah kita mencapai 134 juta jiwa atau sebanyak 56,5 persen dari populasi.Per tahunnya bertambah tujuh juta jiwa. Pertumbuhannya sangat cepat menurut Bank Dunia. Tahun ini saja sebesar 170 juta jiwa. Akibatnya, ada demand yang kuat pada kebutuhan non primer seperti produk-produk informasi dan komunikasi. Namun ini kemudian menjadi sangat primer di kelas menengah,” ujar Yaser. Dikatakannya, kelas menengah ini merupakan konsumen utama telepon selular dan pelayanan data (internet). Itu terlihat dari peningkatan penggunaan internet dan jasa perusahaan yang cukup signifikan tiap tahun.
Yaser mengatakan, kelas menengah ini merupakan pasar yang kuat bagi 16 subsektor industri kreatif nasional. “Sebab pasar kelas menengah ini tidak gampang terpengaruh oleh inflasi dan daya adaptif mereka sangat kuat,” pungkas Yaser.
Sebagaimana diketahui terdapat 16 sub sektor industri kreatif yaitu Industri media meliputi perfilman, Film, video, fotografi, kemudian TV dan Radio, Periklanan, penerbitan dan percetakan, sedang industri seni dan budaya meliputi seni pertunjukan, pasar barang seni, kuliner, kerajinan. Industri Desain meliputi arsitektur, desain, fesyen dan Industri Iptek meliputi Teknologi Informasi dan piranti lunak, permainan interaktif, penelitian dan pengembangan. Selain itu, pertumbuhan ekonomi nasional juga ditopang oleh oleh sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan yang tumbuh 14,63% dalam satu kuartal.
Secara Sektoral
Menurut data Hipmi, secara sektoral pertumbuhan industri kreatif nasional 2014 mencapai 10% dan industri ini diperkirakan dapat masuk dalam tiga besar kontributor untuk Product Domestic Bruto (PDB). Sementara nilai ekspor produk industri kreatif sepanjang tahun 2013 mencapai USD 10 miliar atau setara dengan Rp 119,7 triliun. Angka tersebut mengalami pertumbuhan sebesar 8% dibandingkan dengan tahun 2012.
Meski demikian, kontribusi ekspor industri kreatif baru menyumbang 0,68% dari total ekspor nasional. Bandingkan dengan negara-negara Asean lainnya seperti Malaysia, Singapura, dan Thailand yang rata-rata di atas 1%. Sedangkan negara di dunia dengan ekspor industri kreatif paling besar adalah Amerika yang sudah mencapai 5,02% dari total ekspor mereka, kemudian Perancis sebesar 4,02% dan Inggris yakni 3,87 %.







Komentar