oleh

GMMI Bakal Gelar Istigosah dan Deklarasi Tolak Politisasi Tempat Ibadah

-Berita-199 views

JAKARTA – Masih maraknya politisasi identitas dan penggunaan tempat ibadah untuk penyebaran narasi propaganda politik praktis membuat berbagai kalangan memberikan atensi tersendiri.

Salah satunya adalah Generasi Muda Muslim Indonesia (GMMI). Mereka menilai bahwa narasi yang muncul dan meresahkan itu sangat masif di dunia maya.

“Persoalan utamanya adalah meningkatnya konflik sosial seperti SARA dan konten provokatif. Hal tersebut sering terjadi di dunia maya atau media-media masa,” kata koordinator GMMI, M Yuda Pratama dalam keterangan persnya, Jumat (15/2/2019).

Sayangnya, narasi propaganda negatif semacam itu terus berkumandang dan masih bahkan sudah masuk ke ruang-ruang private seperti masjid dan tempat-tempat ibadah lainnya.

“Namun selain penyebaran melalui media masa, hal yang menakutkan tersebut terjadi di tempat-tempat ibadah yang cukup strategis, salah satunya tempat ibadah umat muslim yakni masjid,” jelasnya.

Apalagi jika dilihat dari fungsinya, masjid dan tempat ibadah adalah tempat yang sangat strategis untuk mengumpulkan jamaah baik dalam rangka peribadatan ataupun kegiatan kegamaan lainnya.

Karena dilihat dari sisi potensialnya itu, Yuda menilai bahwa tempat maupun tempat ibadah lainnya menjadi sasaran empuk untuk mengkampanyekan sesuatu bahkan digunakan untuk menghasut orang lain.

“Sebagaimana diketahui, pemanfaatan masjid dan tempat ibadah lainnya sebagai ajang untuk eksistensi politis, penyebaran ujaran kebencian, semangat peredupan toleransi, hingga dogma seperti ‘Memilih pemimpin kafir maka jenazahnya tidak usah dishalatkan’, tentu mencoreng kebhinnekaan yang telah dijunjung oleh founding father NKRI,” ujarnya.

Bagi Yuda, berpolitik dalam Islam sangat sah dan tidak dilarang. Hanya saja ia memberikan catatan bahwa politik yang mainkan oleh Islam adalah politik kemanusiaan dan kebangsaan, bukan justru politik kekuasaan semata.

“Sesungguhnya Islam bukan agama yang anti politik. Sejarah mencatat bahwa Islam sebagai agama yang politis. Namun, corak politik yang dimainkan Islam bukanlah corak politik kekuasaan yang menghalalkan segala cara untuk untuk mendapat kekuasaan,” tegasnya.

“Politik Islam adalah politik yang berorientasi pada kemanusiaan dan setia pada nilai-nilai etika,” imbuhnya.

Namun jika politik identitas dan politisasi tempat ibadah hanya dijadikan tempat untuk mencari kekuasaan politik praktis semata, Yuda menilai kerugian jelas akan melanda bangsa sendiri.

“Dalam ranah politik praktis, jika ini terus terjadi maka sudah bisa dipastikan bahwa agama akan kehilangan ruh spiritualitas dan berganti wajah menjadi wajah garang pendamba kekuasaan,” pungkasnya.

Maka dari itu, ia bersama dengan jajaran keamanan dan kepemudaan lainnya menggelar diskusi dan deklarasi untuk bersama-sama menjaga tempat ibadah agar tetap berada dalam fungsinya, bukan menjadi panggung politik apalagi penyebaran paham radikal, intoleran dan terorisme.

“Kami Generasi muda muslim Indonesia bersama dengan kegiatan istighosah juga kami akan menjaga tempat ibadah dengan deklarasi tolak politisasi tempat ubadah, radikalisme dan penyebaran berita hoax agar tempat ibadah tetap suci dan tidak dipenuhi dengan unsur kebencian politik praktis. Apalagi hoax yang merajarela saat ini yang menyesatkan masyarakat menjadi radikalis agama,” paparnya.

Acara diskusi, istighosah dan deklarasi tersebut akan digelar pada hari Jumat (15/2/2019) hari ini pukul 18.00 WIB di Masjid Miftahul Jannah, Rusun Benhil, Jakarta Pusat.

Rencananya akan turut hadir pula Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Pol Harry Kurniawan, Walikota Jakarta Pusat Wahyu Megantara, dan Komandan Kodim 052 Jakarta Pusat Letkol Inf Wahyu Yudhayana. ()

Komentar

News Feed