SMART GREEN SAFE VILLAGE 5.0, Konsep Berbasis RT untuk Atasi Sampah dan Krisis Iklim

Berita Utama42 Dilihat

Jakarta – Ketika dunia terus mencari solusi menghadapi krisis iklim, persoalan sampah, dan ketahanan kota, sebuah gagasan justru lahir dari unit pemerintahan terkecil di Indonesia: sebuah RT.

Dalam forum diskusi Jakarta Bersih yang digelar di Taman Terbuka Kelurahan Grogol, Jakarta Barat, Ketua RT 11 RW 07 Gandaria Utara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Imam Basori, memperkenalkan konsep SMART GREEN SAFE VILLAGE 5.0 – From Security to Sustainability.

Konsep tersebut menawarkan pendekatan berbasis komunitas yang mengintegrasikan keamanan lingkungan, teknologi, ekonomi sirkular, pengelolaan sampah, ketahanan pangan, pemberdayaan UMKM, energi bersih, hingga partisipasi generasi muda dalam satu ekosistem pembangunan berkelanjutan.

Menurut Imam Basori, tantangan terbesar dunia saat ini bukan semata-mata persoalan teknologi.

“Masalah terbesar kita bukan karena dunia kekurangan teknologi. Masalah terbesar adalah kurangnya kepedulian. Perubahan dimulai ketika masyarakat berhenti berkata, ‘Itu bukan urusan saya’,” tegas Imam Basori.

Di hadapan peserta yang didominasi generasi muda, pria yang akrab disapa Ibas itu menegaskan bahwa perubahan iklim tidak cukup hanya dibahas dalam forum internasional atau menjadi tanggung jawab pemerintah semata.

“Solusi juga harus lahir dari lingkungan tempat masyarakat tinggal. Bayangkan jika jutaan RT di Indonesia mampu mengolah sampahnya sendiri, menghasilkan kompos, menanam pangannya sendiri, mengurangi emisi karbon, dan memanfaatkan teknologi untuk menjaga keamanan. Dampaknya bukan hanya dirasakan satu kampung, tetapi dapat berkontribusi terhadap tujuan pembangunan berkelanjutan secara global,” ujarnya.

Keamanan Menjadi Pondasi

Menurut Ibas, membangun lingkungan yang berkelanjutan harus dimulai dari pondasi yang kuat, yaitu keamanan.

“Lingkungan harus aman dulu. Kalau masyarakat masih khawatir dengan pencurian kendaraan, kebakaran, atau gangguan keamanan lainnya, mereka akan sulit diajak memikirkan isu-isu yang lebih besar seperti lingkungan dan perubahan iklim,” katanya.

Karena itu, RT 11 lebih dahulu mengembangkan berbagai inovasi keamanan berbasis teknologi, antara lain e-Gate 11 berbasis RFID, GPS kendaraan warga, Alarm Panic Button, CCTV, Si Jaga Warga, serta Kresna Monitoring Center sebagai pusat pemantauan keamanan lingkungan.

Setelah keamanan terbangun, langkah berikutnya adalah menciptakan lingkungan yang nyaman dan sehat melalui pengelolaan sampah berbasis masyarakat.

Menyelesaikan Sampah dari Hulu, Bukan Sekadar di Hilir

Ibas menilai persoalan sampah di Jakarta tidak dapat diselesaikan hanya dengan memperluas kapasitas tempat pembuangan akhir.

Ia menyoroti bahwa beban di TPST Bantargebang telah lama menjadi perhatian, sehingga diperlukan upaya nyata untuk mengurangi timbulan sampah sejak dari sumbernya, yaitu rumah tangga.

“Kalau di hilir sudah kewalahan, maka kita harus menyelesaikan persoalan dari hulunya. Jangan menunggu sampah sampai ke tempat pembuangan akhir. Kita harus jemput bola, door to door, mulai dari rumah warga,” jelasnya.

Dari pemikiran tersebut lahirlah berbagai inovasi lingkungan di RT 11, seperti Komling (Kompos Keliling) yang mengajak warga mengolah sampah organik langsung dari lingkungan, KOMA (Komposter Mandiri) yang mengubah sampah dapur menjadi kompos dalam skala komunitas, serta Smart Geprek untuk membantu proses pengolahan dan pemilahan sampah.

Menurutnya, sampah tidak lagi dipandang sebagai beban, melainkan sebagai sumber daya yang dapat kembali memberi manfaat.

“Sampah bukan lagi persoalan kebersihan semata. Sampah adalah pintu masuk menuju ekonomi sirkular, ketahanan pangan, pengurangan emisi karbon, sekaligus peningkatan kesejahteraan masyarakat,” ujar Ibas.

Ia kemudian mengajukan sebuah pertanyaan kepada peserta.

“Kalau semua orang berkata, ‘Ah… cuma satu bungkus sampah.’ Siapa yang akan menyelamatkan lingkungan kita?”

Dari Sampah Menjadi Ketahanan Pangan

Melalui konsep SMART GREEN SAFE VILLAGE 5.0, sampah organik diolah menjadi kompos, dimanfaatkan untuk penghijauan, urban farming, dan mendukung ketahanan pangan warga.

Menurut Ibas, jika pendekatan ini diterapkan secara luas, dampaknya tidak hanya mengurangi volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir, tetapi juga membantu menekan emisi gas rumah kaca dan memperkuat ketahanan komunitas terhadap perubahan iklim.

UMKM Menjadi Pilar Kesejahteraan

Konsep tersebut juga tidak berhenti pada aspek keamanan dan lingkungan.

RT 11 tengah mengembangkan RT 11 Mart sebagai ruang pemberdayaan ekonomi warga dengan fokus pada penguatan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Produk-produk lokal diharapkan memiliki ruang pemasaran yang lebih luas sehingga manfaat ekonomi dari berbagai inovasi lingkungan juga dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

“Keamanan, lingkungan, dan ekonomi tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Ketiganya harus saling menguatkan agar kesejahteraan warga benar-benar meningkat,” kata Ibas.

Generasi Muda sebagai Penggerak

Di hadapan para peserta, Ibas juga menyampaikan apresiasinya terhadap antusiasme generasi muda.

“Anak muda sering dianggap hanya sibuk bermain gawai. Hari ini saya melihat sebaliknya. Saya melihat kreativitas, semangat, dan keberanian untuk membangun masa depan. Mereka bukan generasi penerus, mereka adalah generasi penggerak,” ujarnya.

Ia berharap konsep SMART GREEN SAFE VILLAGE 5.0 dapat menjadi contoh bagaimana komunitas lokal berkontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) melalui aksi nyata.

Menutup pemaparannya, Imam Basori menyampaikan pesan yang menjadi inti dari seluruh inovasi tersebut.

“Perubahan tidak selalu dimulai dari gedung pencakar langit. Kadang perubahan dimulai dari sebuah gang kecil. Dari sebuah RT. Dari satu ide yang kemudian menginspirasi banyak orang. Kalau bukan kita yang memulai, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi?” tegasnya.

Menurutnya, ketika keamanan, kepedulian lingkungan, teknologi, dan pemberdayaan ekonomi tumbuh bersama di tingkat komunitas, sebuah RT tidak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga dapat menjadi laboratorium hidup (living laboratory) bagi solusi perkotaan yang berkelanjutan dan model yang berpotensi direplikasi oleh komunitas lain di Indonesia maupun di berbagai belahan dunia.