FPKS Sebut Aksi 67 Gagasan PA212 Ciderai Nama Baik Ulama

Nasional389 Dilihat

Jakarta, Beritaasatu.com – Ratusan massa yang tergabung dalam Aliansi Peduli Ulama Indonesia bersama dengan Front Penegakan Keadilan Sosial (F-PKS) menggelar aksi simpatik untuk citra ulama Indonesia di depan Hotel Grand Cempaka, Jakarta, Kamis (5/6/2018).

Dalam aksinya itu, mereka mendesak agar para ulama Indonesia yang ikutan dalam pertemuan da’i dan ulama Internasional itu turut tergerak mencegah dan menghentikan aksi 67 yang diinisiasi PA 212 demi menjaga marwah dan citra ulama Indonesia.

“Demi menjaga citra ulama Indonesia di mata ulama dunia, kami mengharapkan para ulama Indonesia bisa ikutan men-stop aksi 67 tersebut karena memiliki agenda politik didalamnya, tidak murni aspirasi umat,” ungkap Koordinator aksi Ustadz Dullah, saat berorasi.

Ia memandang bahwa agenda Aksi Tegakkan Keadilan yang digagas oleh Persaudaraan Alumni 212 dalam aksi 67 tersebut lebih kental nuansa politisnya. Jika itu terus dilakukan, justru Ustadz Dullah menilai akan lebih banyak mudlorotnya.

“Jangan simpan dendam lagi, biarkan mekanisme hukum yang mengurusnya. Ulama hanya mengingatkan tak perlu lagi pengerahan massa yang justru merugikan orang lain khususnya pengguna jalan. Pilkada telah usai, kalau jagoannya kalah ya diterima saja, bersikap ksatria. Ranah hukum urusannya Polisi,” kata Dullah lagi.

Lebih lanjut, Dullah mengingatkan pesan Gubernur Anies Baswedan dan Jusuf Kalla kepada para peserta Multaqo tingkat Internasional ini yakni menjaga persatuan dan perdamaian. Harusnya, kata dia, mereka (inisiator aksi 67) bisa merenungkan maksud kandungan penyampaian pidato Anies dihadapan ulama dunia tersebut.

“Mari sama-sama ikut menjaga ketentraman di tanah air ini, merajut lagi keberagaman, bina lagi persatuan. Koar-koar ke ulama dunia beri contoh jaga persatuan dan perdamaian, tapi didalam negeri malah tidak diterapkan. Tak perlu lagi diperkeruh-keruh dengan demo-demo pengerahan massa. Paling penting adalah kami tak ingin ulama Indonesia dicap sebagai ulama tukang demo, jaga citra ulama Indonesia itu lebih penting. Takbiir,” kata dia lagi.

“Jangan ciderai proses silaturahmi akbar untuk membangun harmoni dan persatuan,” imbuhnya. (del)

Komentar