Beritaasatu – Sekitar dua bulan lagi, Panglima TNI Jenderal Moeldoko akan diganti. Moeldoko yang menjabat Panglima TNI sejak 30 Agustus 2013 merupakan perwira peraih Adhimakayasa (lulusan terbaik) Akmil Tahun 1981 dan akan pensiun pada tanggal 8 Juli 2015 (58 tahun) sesuai dengan Dalam Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI pasal 53.
Lalu, siapa perwira tinggi TNI yang punya peluang menggantikan Moeldoko sebagai Panglima? Apakah jabatan Panglima TNI ke-16 nanti gilirannya perwira tinggi TNI AU?
Nayawan Persada, Pemerhati Militer dan Alumni Ilmu Politik FISIP UI mengatakan, melihat rotasi Panglima TNI sejak era reformasi, kans AU dapat giliran menjabat panglima TNI cukup besar.
“Meskipun setelah reformasi, rotasi giliran yang jadi Panglima TNI masih tetap didominasi TNI AD. AD masih mendominasi yakni sudah 4 kali, AL baru 2 kali, dan AU hanya 1 kali,” kata Nayawan dalam siaran persnya.
Dikatakannya, tak ada kewajiban dalam UU TNI ada rotasi matra pemimpin TNUI. Namun begitu, jika penggantinya dari matra yang sama dan tak ada siklus baku pergantian Panglima TNI, dikhawatirkan matra lain kecewa dan menunggu terlalu lama mendapat giliran sebagai Panglima TNI.
“Disinilah Presiden Jokowi harus hati-hati untuk menggunakan hak prerogatifnya,” ingatnya.
Ditambahkanya, Jika dibaca pasal 13 (4) UU no 34 Tahun 2004 tentang TNI, maka yang bisa menjadi Panglima TNI adalah yang sedang atau pernah menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan’. Praktis sekarang ini hanya ada tiga nama perwira tinggi TNI yang berpeluang menjadi Panglima TNI yang masing-masing sedang menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan, yakni Jenderal Gatot Nurmantyo (KSAD), Laksamana Ade Supandi (KSAL), dan Marsekal Agus Supriatna (KSAU).
Peluang Jenderal Gatot Nurmantyo menjadi Panglima TNI menurutnya kecil. Kabarnya Gatot adalah Jenderal pilihan Presiden SBY. Dia memprediksi, Jokowi akan membiarkan Gatot menjadi KSAD sampai masa pensiun.
Sama halnya dengan peluang KSAL Laksamana Ade Supandi. Kali ini peluang Ade menurut Nawayan masih fifty-fifty. Ade diuntungkan oleh program utama Presiden Jokowi yang bermimpi sebagai poros maritim dunia.
Sedangkan peluang KSAU Marsekal Agus Supriatna sangat besar. Proses Agus menjadi KSAU terbilang cepat. Dalam hitungan hari, bintang Agus bertambah cepat.
“Ada apa dengan Presiden Jokowi sampai memilih dan mengangkat Agus yang ketika itu berpangkat bintang 2 menjadi KSAU. Apakah Presiden Jokowi sedang mempersiapkan perwira tinggi TNI AU untuk menjadi Panglima TNI. Maka itu saya berpendapat, peluang Agus menjadi Panglima TNI lebih besar jika dibandingkan kedua perwira tinggi bintang 4 di matra lainnya,” bebernya.
Selain itu, nama Agus bersih dari kancah politik. Jika Marsekal Agus Supriatna yang diangkat sebagai Panglima TNI, maka beban Presiden Jokowi tidak begitu berat dalam menggunakan hak prerogatifnya untuk mengangkat KSAU baru.
Komentar