oleh

Rakyat Butuh Pemimpin yang Lembut bukan Militeristik

-Politik-156 views

Medan – Mantan Presiden Mahasiswa IAIN Sumut periode 2012 – 2013 Ahmad Riduan Hasibuan menegaskan bahwa Indonesia sudah tepat dipimpin oleh figur pemimpin yang demokratis.

“Dalam situasi politik nasional saat ini sudah tepat, Indonesia dipimpin sosok yang demokratis, melayani bukan militeristik,” tegas Ahmad Riduan saat ceramah dalam Upgrading dan Raker Bersama Dewan Eksekutif Mahasiswa UIN SU dan Senat Mahasiswa UIN SU di Asrama Haji Medan, Sabtu (3/11/2018).

Lebih lanjut, Riduan menjelaskan ciri leadership yang diharapkan bangsa ini diantaranya pemimpin yang punya kemampuan untuk mendengar, jujur, punya semangat tinggi, merangkul, rendah hati dan berintegritas. Kata dia, ciri kepemimpinan itu penting untuk menggerakkan elemen bangsa menyelesaikan secara bersama-sama kompleksitas masalah sosial, politik, ekonomi Indonesia.

“Kita butuh kepemimpinan melayani, jujur dan berintegritas. Karena diharapkan bisa menggerakan elemen bangsa. Sekali lagi
menggerakkan bukan memerintahkan. Kalau memerintahkan itu militeristik,” jelas dia.

Kata Riduan, gaya militeristik sekarang ini tidak cocok di pakai dalam kepemimpinan nasional sebab kontruksinya bisa tidak jalan
kepada rakyat. Karena rakyat butuh sentuhan yang lembut. Bukan kepalan tangan atau telunjuk komando.

Mantan Bendahara Umum Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam ini juga berpesan agar aktivis mahasiswa termasuk BEM dan
SENAT untuk tidak berhenti memberikan kritik konstruktif bagi pemerintah. Negara sedang butuh kritik konstruktif aktivis
mahasiswa dan meminta mahasiswa tidak diam.

“Mahasiswa termasuk BEM dan Senat harus memberikan kritik bagi pemerintah, tapi harus konstruktif, kalau asal kritik itu
akumulasinya jadi nyinyir. Masak mahasiswa nyinyir,” sambung dia.

Sementara itu, Presiden Mahasiswa UIN SU Muhammad Azhari Marpaung menyampaikan bahwa agenda yang diinisiasi DEMA dan SENAT UIN Sumut kali ini adalah bagian mengefektifkan program kerja mereka dengan perencanaan matang dan menginput pakar dari berbagai ahli dan alumni Presma UIN agar mendapatkan gagasan brilian.

“Kami akan konsisten dalam garis perjuangan mahasiswa dan tidak terlibat
politik praktis,” tukasnya.

Komentar

News Feed