by

BEM Nasionalis Nilai Agenda Aksi Mahasiswa Hari Ini Lebih Akomodir Isu Penantang Jokowi di Pilpres

-Politik-197 views

JAKARTA – Aksi mahasiswa yang kini marak terjadi di beberapa daerah dinilai sudah tidak murni lagi dan justru terlalu kentara membawa kepentingan politik kelompok yang berkontestasi dalam Pemilu 2019.

Oleh karenanya, diharapkan mahasiswa lain tidak terpengaruh dengan aksi-aksi partisan, yang mengarah pada kekacauan politik.

Hal itu dikatakan oleh Koordinator Daerah (Korda) BEM Nasoinalis Jabodetabek, Tukul Widiatmo. Ia mengomentari aksi-aksi mahasiswa hari ini yang cenderung menyerang kredibilitas presiden Jokowi selaku petahana yang akan berlomba dalam Pilpres 2019.

“Dilihat dari isu yang diangkat, aksi-aksi ini by design. Meski seolah mengabarkan suasana aktual saat ini, tapi dipaksakan ketika mengkritisi persoalan yang terjadi, kemudian lompat pada tuntutan turunkan presiden. Dalam situasi tahun politik menjelang Pilpres, aksi-aksi ini dapat dibaca sebagai aksi pesanan pihak yang ingin menciderai kredibilitas Presiden sebagai petahana. Aksi ini sangat partisan,” ujar Tukul dalam keterangannya di Jakarta, Jum’at (14/9/2018).

Dia menilai, sejumlah isu yang dilontarkan kelompok mahasiswa partisan ini sebenarnya adalah isu lama yang juga diusung oleh kelompok oposisi sebagai penantang petahana dalam Pilpres. Isu yang diusung antara lain mengenai masuknya tenaga kerja asing dan kenaikan harga barang. Dan persoalan-persoalan itu sudah dijawab dan dicoba selesaikan oleh pemerintah.

Namun kemudian diolah lagi, setelah menemukan momentum fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika. Padahal gejala ini terjadi di beberapa negara, karena dampak kebijakan ekonomi global. Dan pemerintah sudah mengeluarkan kebijakan untuk menahan laju naiknya dollar, sehingga pelan-pelan dinamika ekonomi ini tidak berlanjut dalam kondisi krisis yang lebih buruk seperti di negara lain.

“Sehingga menjadi aneh ketika rupiah sudah mulai stabil, tetapi tetap dijadikan isu dalam aksi-aksi itu. Ini cukup menggelikan. Seolah aksi ini hanya ingin menyampakan hal-hal negatif tentang pemerintah, tanpa mempedulikan hal-hal positif yang telah dilakukan pemerintah. Aksi-aksi ini cenderung subyektif untuk menghakimi pemerintah, bukan solusi atas permasalahan yang terjadi,” terangnya.

Apakah salah menjadi mahasiswa partisan, Tukul pun menegaskan bahwa sah-sah saja seorang Mahasiswa menjadi agen partisan dalam menyuarakan aspirasinya.

“Tidak juga,” cetusnya.

“Itu pilihan politik. Tapi sebaiknya bersabar saja. Toh tahun depan ada Pilpres. Jika tidak setuju dengan petahana lanjut lagi dan lebih suka mendukung oposisi, bisa disalurkan pada Pilpres. Tak perlu lah sebar-sebar berita yang menyudutkan pemerintah hanya untuk mendukung opisisi. Toh dijaman serba terbuka ini, semua bisa melihat siapa dibalik aksi-aksi mahasiswa ini,” tutur mahasiswa Uhamka Jakarta itu.

“Jadi bersabarlah. Dan untuk mahasiswa lain, tidak perlu ikut-ikutan. Ini sudah ada indikasi perang global dengan pintu masuk sektor ekonomi. Mari bersatu untuk sama-sama menghadapi serangan dari luar yang ingin melemahkan Indonesia. Jangan menjadi kaki tangan kepentingan asing dengan melemahkan pemerintahan sendiri,” pungkasnya.

(rel)

Comment

News Feed