SDR Tantang Jokowi Reshuffle Kabinetnya

oleh -40.511 views

Jokowi pusing beras naikBeritaasatu – Studi Demokrasi Rakyat (SDR) menilai rakyat saat ini sudah tidak bisa lagi berharap dengan kinerja Menteri dibawah pemerintahan Jokowi.

Menurut Direktur SDR Hari Purwanto, istilah “Jokowi effect” tidak lagi bisa memberikan pengaruh positif bagi rakyat. Kata Hari, jurus jokowi tinggal 1 opsi yaitu reshuffle kabinet.

“Oleh karena itu dalam penyusunan kandidat Menteri, khususnya dibidang ekonomi harus orang yang tepat sesuai misi yang dijanjikan jokowi saat pilpres “nawacita” yang bermazhab pro rakyat,” kata Hari, Jumat (3/7/2015).

Lebih lanjut, mantan aktivis Famred itu mengatakan saat ini sangat sulit mencari figur sesuai kriteria itu yang dianggap paling kuat dan diterima dipasar. Sebab, asing mendominasi perekonomian Indonesia, terlihat dari kepemilikan SDA 85%, perbankan 75%, Hutan 65%.

“Itu adalah buah hasil dari menteri perekonomian di era pemerintah sebelumnya,” ungkapnya.

Dikatakan Hari, kelemahan jokowi adalah dalam profilling tokoh-tokoh nasional yang layak menduduki Kementerian, dengan “The Right Man in The Right Place”. Dan Jokowi hanya melihat dari CV dan dongeng dari orang-orang di sekitarnya. Dalam kondisi kekinian saat inilah yang tepat uji keberanian Jokowi sebagai pemimpin untuk mengganti para menteri yang tidak kapabel dan tidak lagi on the track dengan Nawacita dan Revolusi Mental. Sebab, kata dia, peran Jokowi harus segera hadir ditengah rakyat yang sedang mengalami kebuntuan dalam persoalan ekonomi dengan mahalnya harga sembako dibulan ramadhan ini.

“Sebagai pemimpin rakyat yang memiliki ribuan bahkan jutaan relawan non parpol yang militan, dengan Jokowi Mereshuffle kabinetnya menjawab kegelisahan yang terjadi ditubuh relawan,” tegasnya.

Lebih jauh, Hari meminta agar Jokowi harus berani melaksanakan reshuffle tanpa perlu ditekan atau dianggap sebagai petugas partai.

“Sebab bukan partai yang dibelakang jokowi tapi relawan pendukung yang solid dan militan non parpol yang memback up selama ini,” tukasnya.

Comment