Dibentuknya Partai Buruh Cuma Bentuk Kekecewaan

Politik306 Dilihat

Mudhofir andi ganiBeritaasatu – Ketua Umum SBSI 92, Sunarti mengatakan, soal dukungan terhadap partai buruh, Sunarti pesimis partai baru yang menaungi buruh nanti akan membawa kaumnya menuju kesejahteraan.

“Bagi saya, saya takut, kawan-kawan nanti akan sama menjadi partai yang sudah ada. Kalau ini besar, semakin besar dan semerbak, apa akan tetap pada garis awal. Apa ini jalan keluar? Ini perlu kajian,” ungkapnya.

Hal itu disampaikannya saat diskusi bertema: Partai Politik untuk Buruh, Kebutuhan atau Kekecewaan yang diinisiasi Forum Wartawan Joeang (FWJ) di Gedung Joeang 45 Menteng, Rabu (29/4/2015).

Sebab, pembiayaan partai tak lepas dari pemodal-pemodal. Dia mengingatkan, kaum buruh jangan sampai menggantung harapan besar pada partai baru tersebut. Jangan sampai partai buruh hanya jualan janji alias lips services.‎ 

Partai buruh harus jadi alat perjuangan buruh, bukan menjadi alat bagi elit-elit aktivis buruh merebut kekuasaan untuk selanjutnya melupakan kaumnya. Ditambahkan Sunarti, sukses kepemimpinan nasional juga harus betul-betul dipikirkan oleh partai buruh. Apakah akan benar-benar memilih Presiden dari kaum mereka, atau hanya akan menempel di kekuatan-kekuatan politik besar milik pemodal-pemodal yang anti terhadap kesejahteraan kaum buruh.

“Saya dukung saja. Tapi kawan-kawan buruh h‎arus siap-siap kecewa. Sebab saya kira latar belakang kawan-kawan buruh membuat partai juga dasarnya kecewa, bukan kebutuhan,” ujar Sunarti.

‎Di luar itu, Sunarti ingin pemimpin nasional menggunakan momentum Mayday 01 Mei nanti mengumpulkan seluruh elemen buruh untuk menyampaikan unek-uneknya. 

“Saya gembira, Presidennya bekas buruh Mebel. ‎Jadi gak perlu demo, kumpulin dan serap semua aspirasinya,” bebernya.

Lebih jauh, Sunarti mengaku terkait buruh akan melakukan pendirian partai politik, pihaknya belum ada ancang-ancang membuat partai politik. Pihaknya, ingin merubah paradigma dan belum membuat partai.

“Menurut saya itu, perlu dibuat kajian ulang untuk deklarasi 1 Mei. Jangan seperti dulu. Buruh sudah dikotak-kotakan. Iini yang menjadi PR kita. Ini masih premature jadi belum pas. SBSI 92 belum memikirkan membuat parpol,” terangnya.

Sementara itu, Ketua Pusat Perjuangan Rakyat Indonesia (PPRI) Sulthoni menganggap partai politik untuk buruh sebagai kebutuhan. 

Sejauh ini, kata Shultoni, perjuangan kaum buruh masih bersifat lokal. Berbagai kelompok buruh ‎baru sebatas memperjuangkan upah di setiap daerah-daerahnya lewat demonstrasi-demonstrasi. 

Kebijakan nasional yang menyeluruh dan komprehensif belum kunjung dibenahi. Untuk mewujudkannya, kaum buruh mesti menembus kelas perjuangan yang lebih nasional. Dengan menguasai legislatif‎ dan eksekutif.

“Momentum Mayday 2015, arus utama kekecewaan kaum buruh mulai menyatu. Bisa jadi ini kehendak buruh untuk mulai berjuang di arena baru, yakni kancah politik, ” ujar Shultoni saat diskusi Forum Wartawan Joeang (FWJ) bertajuk ‎”Partai Politik untuk buruh, kebutuhan atau kekecewaan” di Gedung Joeang 45, Menteng, Jakarta Pusat kemarin.

Ditambahkannya, perjuangan lewat audiensi-audiensi dan perlawanan-perlawanan bisa dibilang sudah buntu. Jalur-jalur yang telah dilakukan selama ini belum kunjung mengubah nasib buruh.

Contohnya, banyak kebijakan yang masuk di Prolegnas soal perburuhan justru mengancam nasib buruh. Seperti sistem kerja kontrak outsourcing yang secara garis besar menurunkan kemanusiaan buruh dan menghilangkan kepastian kerja. Mengubah aturan ini, hanya bisa dilakukan sendiri oleh buruh di medan legislatif.

‎”Belum ada partai yang riil memperjuangkan hak-hak buruh. Dua tiga tahun terakhir, wacana bikin partai memang sudah menguat. Sudah tidak dihindarkan lagi kaum buruh ambil perjuangan politik,” ujarnya.

Salah satunya, Gerakan Buruh Indonesia (GBI) yang akan mendeklarasikan partai buruh pada momentum Mayday 01 Mei nanti. 

Bagi Sulthoni, dia mendukung partai baru tersebut dan berharap bisa membawa suara kaum buruh. Dia yakin, Partai Buruh jika dibentuk dan diorganisir dengan baik, akan jadi partai terbesar di Indonesia, sebab, mayoritas masyarakat Indonesia adalah kaum buruh.

“Kami mendukung. Syaratnya, rangkul semua kaum buruh. Diskusikan visi dan misi yang jelas, supaya jadi partai politik yang berbeda dari yang lain. Untuk merebut kekuasaan,” ujarnya.

Komentar