Bandung – Mahasiswa Kelompok Cipayung (MKC) yang terdiri dari beberapa organisasi diantaranya Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) dan Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) menolak seruan dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se Indonesia yang akan menggelar aksi serentak dengan agenda menurunkan Presiden Jokowi pada 20 Mei mendatang.
Ketua GMKI Bandung dan Koordinator Kelompok Cipayung, David Sitorus menilai aksi unjuk rasa yang diserukan BEM bertepatan dengan peringatan hari Kebangkitan Nasional itu tidak sepaham dengan pemikiran dari MKC.
“Setelah melakukan diskusi dengan teman-teman kami sepakat untuk menyampaikan aspirasi dengan cara yang lebih santun seperti berdialog,” ujar David di sekretariat GMKI Jalan Ir H Djuanda Bandung, Minggu (13/4)
David menegaskan fungsi kontrol dari mahasiswa memang harus ada, tapi isu penurunan Jokowi bagi MKC cenderung reaksional dan rawan dipolitisasi.
“Kami tidak mau masuk jebakan, bagi kami aksi unjuk rasa itu sangat reaksional tanpa kajian yang mendalam dan berpotensi menimbulkan keresahan di masyarakat,” tegasnya lagi.
David khawatir langkah yang dilakukan BEM sangat rawan jebakan dan penyusupan serta politisasi dari pihak-pihak tertentu.
“Bagi kami yang terpenting bukan siapa presidennya, tetapi bagaimana negara itu ada di saat rakyat membutuhkan,” tandasnya.







Komentar