Jakarta, beritaasatu – Populi Center menilai, pernyataan-pernyataan Megawati tidak mencerminkan semangat keberpihakan kepada ‘wong cilik’ dan nilai-nilai demokrasi.
Megawati disebut hanya hidup dalam narasi dan mimpi kebesaran pribadinya sebagai anak proklamator tanpa mewarisi nilai dari sang ayah, Soekarno. Menurut dia, pernyataan-pernyataan Megawati tak mencerminkan semangat keegaliteran ayahnya, Soekarno.
“Diksi yang dipakai semakin mencerminkan pudarnya semangat keegaliteran Soekarno dan berganti menjadi diksi kediktatorannya Soeharto. Megawati lama-lama mirip Soeharto daripada Soekarno,” ujar Pengamat politik dari Populi Center Nico Harjanto, Senin (13/4/2015).
Dalam salah satu bagian pidatonya, Megawati menekankan kepada seluruh kader PDI-P yang duduk eksekutif dan legislatif untuk menjalankan tugas sejalan dengan garis perjuangan partai.
Jika tak mau disebut sebagai petugas partai, Megawati mengatakan, sebaiknya kader tersebut keluar dari partai.
“Masak ngomong kalau enggak mau disebut petugas partai, keluar. Ini kan sama dengan Soeharto yang bilang kalau enggak mau terima Pancasila, gebug,” kata Nico.
Selain itu, Nico juga mempertanyakan kebijakan PDI-P yang menyingkirkan kader-kader yang selama ini dianggap berkontribusi baik terhadap partai. PDI-P justru memasukkan sejumlah nama yang terjerat kasus dugaan korupsi.
“Megawati membusukkan PDI-P dari dalam dengan mengakomodasi eks kader atau yang saat ini kena kasus. Padahal sebagai partai ideologis, loyalitas utama itu ada pada nilai yang dianut kader, bukan pada kemauan pribadi sang ketua umum,” ujar Nico.











Komentar