Mantan Orang Dalam Al Zaytun Bongkar Penyimpangan Ajaran Panji Gumilang

oleh
oleh

Jakarta – Mantan Wali Santri yang juga pernah menjadi Pengikut Negara Islam Indonesia atau NII, Lenny Siregar, mengungkap sejumlah ajaran tidak lazim yang disebarkan oleh Pimpinan Pondok Pesantren Al Zaytun, Panji Gumilang.

Lenny pun membongkar dugaan penyimpangan ajaran Petinggi Al Zaytun tersebut. Lenny mengaku telah masuk bergabung karena diajak teman baik ketika SMA untuk untuk ikut pengajian.

“Karena kepercayaan akhirnya saya mengiyakan dan positif thinking karena ajakan tersebut dinilai yakni mengaji dan mengikuti kajian Islam, namun heran pesertanya hanya sedikit,” tegas Lenny, hari ini.

Kata dia, setelah dibagian sebagai proses dari hijrah merasa heran mengapa harus ada perbedaan status dengan yang diluar yang disebut kafir termasuk orang tua dan ulama-ulama lainnya karena belum hijrah.

Lenny mengatakan bahwa ajaran Panji Gumilang dapat dikatakan ‘nyeleneh’ setelah melihat ada keanehan dari ajaran yang disampaikan Panji Gumilang, salah satunya yaitu mengenai tidak wajibnya shalat.

“Hanya sedikit yang sering mengerjakan shalat dan yang lain praktis meninggalkan shalat sehingga yang lain lama kelamaan ikut terbawa. Ada pemahaman bahwa mencari rejeki itu adalah shalat aktivitas dan dapat menggantikan shalat wajib,” katanya.

Ajaran Panji Gumilang shalatnya dalam bentuk merekrut orang agar masuk dalam NII dan juga dengan menarik infaq.

“Mereka bilang salat aqimuddin, salatnya itu adalah dalam bentuk tilawah dan maliyah, tilawah perekrutan, maliyahuntuk menarik infaq,” kata Lenny.

Selain salat, keanehan lainnya adalah mengenai puasa. Dia mengatakan untuk puasa imsaknya ada di jam 06.00 pagi tidak mengikuti imsak pada umumnya yang ditetapkan sebelum subuh.

Lenny mengatakan, bukan hanya dirinya yang saat itu mengikuti Panji Gumilang, tetapi kedua anaknya pun disekolahkan di Al Zaytun. Namun semua itu dia sudahi setelah benar-benar merasakan kejanggalan.

Pada dasarnya yang ada didalam Al Zaytun adalah orang dalam semua. Harusnya yang dibahas adalah orang dalam, bukan santrinya karena pendidikan di AL Zaytun mengikuti kurikulum kemenag. Hal-hal yang aneh tersebut betul-betul dijaga sehingga tidak tersentuh hukum.

“Masyarakat harus bisa bedakan antara KW 9 dengan pesantren, para santri tidak diberikan pemahaman seperti yang diterima oleh orang tuanya,” ucapnya.

Lenny mengatakan di kelas 12 ada semacam kegiatan sosialisasi atau pemahaman dengan bahasa yang lebih soft seperti pembekalan atau LDK, disinilah mulai digiring pemberian doktrin.

Saat pebelajaran sesuai dengan kurikulum Kemenag tapi diluar jam pembelajaran mulai diajarkan adzan menghadap jamaah, diajarkan nyanyian yang nyeleneh, ketika liburan juga diajarkan tentang operasi teritorial, katanya.

“Kaderisasi yang diberikan secara perlahan dan dilakukan diluar jam pesantren. NII di Al Zaytun bukan NII Kartosuwiryo namun NII Panji Gumilang,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.