Benny Susetyo : Tantangan Era Digital Banyak, Salah Satunya dalam Konsep Bela Negara

oleh

Jakarta – Perkembangan dunia yang menuju konsep globalisasi dimana sekat, jarak dan waktu semakin lama semakin menghilang khususnya karena perkembangan teknologi. Selain mempermudah manusia dalam bertindak dan bekerja, juga menimbulkan kerentanan terhadap eksistensi negara dan bangsa. Hal ini terjadi karena makin cepatnya Informasi diterima masyarakat karena kemudahan akibat tehnologi seringkali informasi-informasi ini tidak jelas asal usulnya dan ditujukan semata-mata untuk menimbulkan kegaduhan di dalam masyarakat. Seperti mempertentangkan ideologi, identitas dan agama yang dalam jangka panjang dapat menimbulkan perpecahan yang mengancam kedamaian dalam bangsa dan negara.

Indonesia mengalami berbagai Ancaman, Gangguan, Hambatan dan Tantangan (AGHT) yang terus berubah seiring dengan perkembangan kondisi lingkungan strategis, baik di tingkat nasional, regional dan global. Memasuki abad ke-21, dalam rangka menyongsong 100 Tahun “Indonesia Emas” pada 2045, lingkungan strategis telah memunculkan bentuk-bentuk AGHT yang semakin kompleks, sulit diprediksi dan diantisipasi, serta berdampak pada kedaulatan negara, keutuhan wilayah, dan keselamatan bangsa, berikut seluruh aspek serta dimensi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Karena keprihatinan terhadap hal tersebutlah Pusat Kajian Bela Negara Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta menyelenggarakan kegiatan pekan Bela Negara pada 19 sampai dengan 30 Desember 2022. Salah satu kegiatannya adalah acara Bedah Buku bertajuk Menalar Bela Negara yang merupakan hasil Survey Persepsi Masyarakat Indonesia terhadap Bela Negara di Era Digital dan Bela Negara dalam Perpektif Publik, yang merupakan karya dari tim Penulis Universitas Veteran Jakarta Pada tanggal 22 Desember 2022 di Auditorium Wahidin Sudiro Husodo Universitas Veteran Jakarta.

Kajian Bela Negara ini bertujuan memetakan persepsi publik masyarakat Indonesia di era digital, sehingga berbagai stakeholder terkait dapat melakukan upaya-upaya pengembangan yang relevan dalam meningkatkan dan memperkuat nilai-nilai Bela Negara ditengah masyarakat. Tujuan lain dari kajian ini adalah melihat harapan masyarakat terhadap perguruan tinggi dan dosen dalam mengaplikasikan bela negara. Sehingga UPN Veteran Jakarta sebagai Kampus Bela Negara dapat mengaplikasikannya sesuai Pancasila, UUD 1945, aturan-aturan yang berlaku dan harapan masyarakat.

Acara Bedah Buku yang diselenggarakan secara daring dan luring ini antara lain mengetengahkan Pengamat Politik Indonesia Dr. Ujang Komaruddin , Tenaga Operasional Bidang Ideologi dan Sosial Budaya Lemhanas Republik Indonesia Albertus Magnus Putut P dan Staff Khusus Dewan Pengarah BPIP Dr.Antonius Benny Susetyo Sebagai Pembicara.

Benny dalam kesempatan ini membahas mengenai bagaimana gangguan terhadap kedaulatan bangsa dan negara yang makin beragam bentuknya.

“Gangguan-gangguan yang mungkin selama ini tidak terpikirkan oleh para pembuat kebijakan tidak disadari bergerak dengan cepat dan masif dari waktu ke waktu, khususnya karena kemajuan teknologi yang makin canggih dan mempercepat laju penyampaian informasi masyarakat yang cenderung belum memiliki kecerdasan literasi dan memiliki kemampuan untuk menyaring dan memilah informasi membuat mereka terjebak kepada narasi negatif, politik identitas dan berita bohong.” tegas dia.

Benny menilai hal ini tidak dapat dibiarkan berlarut larut karena dapat melemahkan rasa persatuan dan kesatuan dan lebih lanjut dapat mengancam eksistensi bangsa dan negara.

“Teknologi canggih tidak dijadikan sebagai sarana untuk berbagi kebaikan dan bahu membahu menuju Indonesia yang rukun dan damai. Teknologi justru menjadi tuan atas penggunanya yang dibuktikan adanya urgensi dan keinginan dalam masyarakat untuk tidak saja bereaksi, namun aktif membagikan dan membicarakan hal hal negatif di ruang ruang digital publik. Fenomena itu terjadi sebegitu besarnya hingga warganet Indonesia terkenal sebagai warganet paling tidak sopan di dunia.” jelasnya.

Karena hal tersebutlah Benny mengajak kita semua dalam upaya melakukan Bela Negara harus kembali kepada nilai-nilai luhur Bangsa yang terangkum dalam Pancasila.

“Karena Bela Negara saat ini tidak hanya terpaku kepada hal Fisik yang melibatkan Militer dan batas batas wilayah Negara, Bela Negara juga harus dipandang sebagai upaya menjaga pola pikir dan budaya bangsa dalam menghadapi tantangan baik lokal maupun Global yang berusaha merusak sendi sendi Konsep berbangsa dan bernegara dengan tujuan menjauhkan masyarakat dari Pancasila.” tandasnya.

Ia berharap buku-buju yang dibedah ini kiranya dapat membahas lebih dalam dan Detail mengenai Upaya Bela Negara dari terjangan budaya asing dan hal-hal negatif dengan mulai memenuhi ruang-ruang Publik digital kita. Terutama dengan konten-konten Keindonesiaan yang berisikan keluhuran budaya lokal dan nilai-nilai bangsa yang diwariskan oleh Nenek moyang.

“Upaya ini hendaknya dapat menjadi awal memperkuat Ketahanan Bangsa dan lebih lanjut kembali membumikan Pancasila kepada seluruh Lapisan Masyarakat Indonesia,” tutup Benny dalam acara yang dihadiri oleh 100 orang peserta yang hadir dari seluruh Indonesia baik secara luring maupun daring ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

No More Posts Available.

No more pages to load.