oleh

Viral Peserta Budaya Tujuh Belasan di Probolinggo Dipastikan Tak Ada Ideologi Terorisme

-Nasional-186 views

Jakarta – Video pawai peserta bocah perempuan sebuah Taman Kanak-kanak di Probolinggo, Jawa Timur, dipastikan tak ada simbol radikalisme atau terorisme.

Hal itu disampaikan Kepala Kepolisian Resor Kota (Kapolresta) Probolinggo Ajun Komisaris Besar Polisi Alfian Nurrizal setelah mengkonfirmasi Kepala Sekolah TK Kartika V Probolinggo Hartatik perihal video viral busana bocah perempuan bercadar sambil memegang senjata mainan dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan ke-73 RI di Probolinggo, Jawa Timur, Sabtu (18/8/2018).

“Penggunaan atribut itu merupakan ide atau tema dari TK Kartika V Probolinggo dengan maksud merefleksikan perjuangan Rasulullah dan tidak ada maksud mengarah kepada simbol-simbol radikalisme atau teroris, hanya menanamkan keimanan kepada anak didiknya,” kata Alfian dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (18/8).

Hartatik pun angkat suara dengan meminta maaf dan membantah bahwa penggunaan kostum ke anak didiknya bertujuan untuk mendukung, maupun mengarah ke salah satu kelompok radikal tertentu. Pasalnya, pihaknya tidak mengajarkan ideologi kekerasan.

“Kami meminta maaf karena penggunaan atribut itu merefleksikan perjuangan Rasulullah, dan tidak ada maksud mengarah ke simbol-simbol radikalisme,” kata Hartatik.

Hartatik melanjutkan beredarnya video di media sosial itu merupakan potongan video yang tidak utuh. Karena dalam pawai itu juga ditampilkan berbagai kreasi lainnya.

“Video itu tidak utuh. Kami juga menampilkan ornamen Ka’bah yang merupakan simbol kokohnya keimanan yang dimiliki oleh Rasulullah SAW. Replika senjata itu, juga sudah pernah digunakan pada karnaval tahun-tahun sebelumnya,” ujar Hartatik.

“Pawai budaya tema bebas dan kami mengangkat tema “Bersama Perjuangan Rasulullah, Kita Tingkatkan Keimanan Dan Ketaqwaan Kepada Allah SWT,” jelasnya.

“Sekali lagi kami memohon maaf kepada seluruh masyarakat Indonesia khususnya masyarakat Probolinggo dan tidak terpikirkan soal dampak dari kostum tersebut,” ucap dia lagi.

Hartatik menjelaskan bahwa atribut yang dikenakan bocah TK Kartika tersebut memanfaatkan aksesoris yang pernah digunakan saat pementasan Drum Band tahun 2016. Seperti miniatur Ka’bah, Kuda-kudaan, Unta-untaan, kereta, replika senjata, pedang hingga tombak.

“Penggunaan konsep tema mengambil kejayaan Arab Saudi masa lalu dan masa modern dengan Raja Salman sebagai pemimpinnya. Konsep Kejayaan kerajaan Arab Saudi dikaitkan dengan tema Kemerdekaan yaitu pejuang Islam / Arab,” bebernya.

Dikatakannya, konsep Kejayaan kerajaan Arab yaitu dengan adanya Raja Salman beserta bala pasukan pejuang arab sudah dibahas di Rapat Komite dan wali murid dan disepakati dengan pakaian peserta yaitu peserta pria menggunakan jubah putih dan peserta wanita menggunakan cadar / hijab warna hitam.

“Peserta pria berjubah putih dengan bendera merah putih di depan, peserta menaiki kuda dan unta mainan, peserta sebagai Raja Salman beserta Ratu, Peserta sebagai pasukan raja (pejuang arab masa lampau) yaitu berupa pejuang perempuan bercadar dengan penggunaan replika senjata,” bebernya.

Alfian kembali menegaskan bahwa karnaval itu merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan setiap tahun oleh Pemerintah Kota Probolinggo dengan tema Pawai Budaya Bhinneka Tunggal Ika.

Selain itu, menurutnya, kostum tersebut dipilih karena alasan memanfaatkan properti yang ada di sekolah agar tidak menyewa lagi, tanpa tujuan yang mengarah kepada tindakan pelanggaran hukum.

Alfian mengatakan, pihaknya telah menggelar konferensi pers bersama Hartatik, Komandan Kodim 0820 Probolinggo Letkol Depri Rio Saransi, dan Kepala Pendidikan Nasional Kota Probolinggo terkait kostum murid TK Kartika V Probolinggo yang menuai kontroversi di media sosial karena dikaitkan dengan simbol terorisme.

Dalam konferensi pers itu, Alfian kembali berkata, Hartatik meminta maaf kepada masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Probolinggo dan menyatakan penggunaan kostum tersebut tidak memiliki maksud apapun.

“Telah dilaksanakan klarifikasi oleh panitia dan TK Katika V Probolinggo terkait penggunaan kostum yang menjadi pro kontra di masyarakat dengan tujuan untuk meluruskan permasalahan yang sebenaranya, serta tidak ada tujuan atau maksud tertentu dari Kepala Sekolah TK Kartika V Probolinggo,” tukasnya.

Komentar

News Feed