Kapolri Minta Maaf soal Telegram Larang Media Liput Kekerasan Polisi, FWJ: Tunjukkan Polri Demokratis Tidak Anti Kritik !

oleh -8.480 views

BERITAASATU – Telegram Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo yang melarang media memberitakan kekerasan serta arogansi polisi, dinilai berbahaya bagi kebebasan pers di Indonesia.

Forum Wartawan Joeang (FWJ) menilai kebijakan Kapolri terkait pelarangan tersebut jelas membahayakan kebebasan pers. Bukannya mendapatkan simpatik, cara Polri semacam ini malah membuat publik semakin tidak puas terhadap kinerjanya.

“Terlebih lagi, banyak catatan dari penanganan aksi massa yang brutal. Publik mengharapkan polisi yang humanis, bukan yang suka kekerasan dengan dalih ‘ketegasan’,” tegas Ketua FWJ Septiardi, Selasa (6/4/2021).

Tak berselang viralnya Telegram tersebut, Kapolri Listyo Sigit Prabowo langsung meminta maaf atas terbitnya telegram larangan media meliput tindakan arogansi Polri. Dicabutnya telegram tersebut sebagai wujud Polri tidak anti-kritik, bersedia mendengar, dan menerima masukan dari masyarakat.

“Dan sekali lagi mohon maaf atas terjadinya salah penafsiran yang membuat ketidaknyamanan teman-teman media. Sekali lagi kami selalu butuh koreksi dari teman-teman media dan eksternal untuk perbaikan insititusi Polri agar bisa jadi lebih baik,” kata Kapolri.

Menurutnya, Polri harusnya bisa merangkul dan menjadikan jurnalis sebagai partner yang solid di lapangan. Sehingga ada keterbukaan, apalagi di era demokrasi saat ini. Kata dia, keberadaan jurnalis dengan menyoroti kinerja Polri bisa menjadi cambuk untuk perubahan dan bahan koreksi agar tidak ada lagi aktivitas Polisi yang arogan.

“Jangan ada yang ditutup-tutupi. Kami menilai pernyataan tersebut sangat merugikan. Dan Polisi bukan lagi aparat militer, dan bisa tunjukkan karakter kebhayangkaraannya yang demokratis tidak anti kritik,” tandasnya.

Comment

No More Posts Available.

No more pages to load.