oleh

Paham Takfiri Lebih Ngeri dari Aksi Terorisme

-Hukum-681 views

CIMAHI – Salah satu cendekiawan dan penilis, Yahya Nuryadi menilai bahwa tidak dibenarkan cara-cara takfiri untuk memberikan label kepada sesama muslim karena perbedaan pandangan tertentu.

“Takfriyah berpotensi menimbulkan banyak dampak yang merusak (destruktif) baik dalam kehidupan sosial, politik, dan akhlak,” kata Yahya dalam acara bedah buku dan seminar kebangsaan bertemakan “Haramnya Mengkafirkan Sesama Muslim” yang digelar oleh Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Islam Nusantara (UNINUS) Bandung, di Aula Gedung Dakwah, Komplek Masjid Agung Kota Cimahi, Jawa Barat, Senin (27/8/2018).

Labelisasi takfiri ini jelas akan mematikan karakter sosial seperti saling curiga dan saling melemahkan bahkan kepada kekuatan Islam sendiri.

“Sehingga dapat mematikan karakter dan menimbulkan rasa saling curiga, melemahkan kekuatan ummat Islam, dan merusak ukhuwwah Islamiyah,” tambahnya.

Takfiri akar dari radikalisme dan terorisme

Dalam kesempatan yang sama, Dosen UNIUS Bandung, Agus Hendro mengatakan bahwa takfiri adalah cikal-bakal dari hadirnya paham radikalisme, intoleransi dan terorisme. Bahkan menurutnya, paham takfiri ini dampak kerusakannya sangat besar dari hanya sekedar tindakan terorisme biasa.

“Pemikiran radikal (takfiriah) lebih berbahaya dari terorisme. Karena takfiriah adalah rahim dan pelegitimasi pembunuhan, pemboman, penembakan dan berbagai tindakan terorisme lainnya, namun pengkafiran juga bisa dijadikan alat oleh negara-negara lain untuk menghancurkan tatanan sebuah negara,” ujarnya.

Agus mengatakan bahkan sikap takfiri yang berujung pada tindakan radikal dan terorisme tersebut juga bisa dilihat dari hancurnya beberapa negara timur tengah.

“Irak, Suriah, juga Afghanistan adalah contoh bagaimana kelompok pengkafiran telah meluluh-lantahkan segala pembangunan yang telah dilakukan oleh negara-negara itu. Sehingga mereka tidak lagi bisa fokus dalam membangun karena disibukan dengan konflik horisontal,” tuturnya.

Dalam kegiatan tersebut, hadir juga kaum ibu-ibu. Salah satu alasannya adalah agar kaum ibu-ibu yang memiliki basis kekuatan yang cukup besar baik di lingkup keluarga maupun lingkup masyarakat sekitar dapat memahami betapa pentingnya menjauhkan diri dari budaya takfiri tersebut. Dan inilah yang disampaikan oleh Agus Hendro yang juga berperan sebagai moderator acara.

“Alasan diundangnya jamaah ta’lim yang mayoritas ibu-ibu, karena penyelenggara ingin memberikan pemahaman bahwa ibu-ibu dapat menjadi agen pencegah atau penangkal radikalisme di lingkungan keluarganya,” kata Agus.

Kemudian, Agus juga menilai bahwa Ibu-ibu adalah corong pertama bagi anak-anaknya untuk memilih cara bergaul dan bersikap. Jika ibu-ibu paham tentang bahaya radikalisme dan terorisme, maka anak-anak Indonesia akan terhindar dari doktrin paham tersebut.

“Ibu-ibu merupakan guru atau pemberi ilmu bagi anak dan keluarganya, sehingga diharapkan ibu-dapat memberikan pengarahan kepada anak-anaknya untuk tidak bergabung dengan kelmpok radikal dan teror,” tuturnya.

Selain ibu-ibu dari majelis taklim, para peserta juga berasal dari beberapa kampus di Jawa Barat. Diantaranya adalah Mahasiswa UNINUS Bandung sendiri, kemudian Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dan Mahsiswa Universitas Islam Bandung (Unisba).

Komentar

News Feed