Berbasis Nilai, Dewan Pakar BPIP Ungkap Dunia Apresiasi Diplomasi Indonesia

oleh
oleh

Jakarta – “Diplomasi Indonesia selama sembilan tahun terakhir ini dilakukan tidak hanya berdasar pada perjuangan kepentingan nasional yang memberi manfaat langsung bagi rakyat yang dikenal dengan jargon “diplomasi membumi”. Tetapi yang perlu juga dicatat adalah bahwa diplomasi Indonesia telah memproyeksikan nilai dalam pelaksanaan hubungan antar-negara”.

Hal itu disampaikan oleh Dr. Darmansjah Djumala, Dewan Pakar BPIP (Badan Pembinaan Ideologi Pancasila) Bidang Strategi Hubungan Luar Negeri, mengomentari Pernyataan Pers Tahunan Menteri Luar Negeri (PPTM), Senin (8/1/2024), di Bandung, Jawa Barat.

Dalam acara itu Menlu Retno Marsudi mengatakan diplomasi Indonesia menjunjung tinggi nilai dan prinsip yang tidak tergoyahkan. Ditegaskan pula, politik luar negeri Indonesia tidak transaksional, tetapi lebih menjembatani perbedaan, selalu menghormati prinsip, dan selalu menjadi bagian dari solusi permasalahan dunia.

Dr. Djumala, yang pernah bertugas sebagai Duta Besar RI untuk Austria dan PBB di Wina, lebih jauh mengatakan gerak diplomasi Indonesia di bawah kepemimpinan Menlu Retno selama sembilan tahun terakhir telah menampakkan profil diplomasi membumi, yaitu diplomasi yang memberi manfaat langsung bagi rakyat. Perlindungan WNI di luar negeri dan diplomasi ekonomi yang menarik investasi dan peningkatan perdagangan adalah contoh diplomasi yang manfaatnya dirasakan langsung oleh rakyat.

Disamping diplomasi membumi, Kemlu dengan mesin diplomasinya juga telah memberikan sumbangsih pada diplomasi multilateral. Dr. Djumala merujuk kepada peran Menlu Retno dalam diplomasi vaksin ketika pandemi mendera dunia pada 2020-2021.

Retno Marsudi, dalam kapasitasnya sebagai co-chair (ketua bersama) dengan Menteri Kesehatan Ethiopia dan Menteri Kerja Sama Pembangunan Internasional Kanada, melakukan diplomasi vaksin gerak cepat melalui Covax (Covid-19 Vaccines Global Access) Facility, program pengadaan dan alokasi vaksin di bawah WHO kepada semua negara terlepas dari tingkat kemajuan ekonominya.

Terkait kinerja diplomasi Indonesia di tataran dunia, Dr. Djumala menyampaikan apresiasinya atas peran Indonesia sebagai host KTT G-20 di Bali yang menyepakati hasil konkret berupa Pandemic Fund: dana patungan 21 negara (termasuk Indonesia) dan 3 lembaga filantropi berjumlah 1,4 miliar dollar AS untuk membantu negara-negara yang kurang mampu dalam pembiayaan pencegahan, persiapan, dan respons terhadap pandemi.

Kemampuan memobilisasi dana ini cerminan nilai Persatuan, sila ketiga Pancasila dan semangat gotong royong yang sudah menjadi DNA bangsa Indonesia. Bahwa pandemic fund digunakan untuk membantu negara berkembang mengatasi pandemi, upaya itu jelas memancarkan nilai Kemanusiaan dan Keadilan, sila kedua dan kelima Pancasila.

“Kemampuan Indonesia menelurkan hasil konkrit G20 tak lepas dari citra positif Indonesia selama ini yang dikenal sebagai honest broker dan bridge builder, sehingga Indonesia memiliki diplomatic credential dalam setiap inisiatifnya membantu mengatasi masalah dunia.” tegasnya.

Diplomasi Indonesia yang bersumber dari nilai luhur Pancasila – gotong royong, musyawarah, kemanusiaan dan keadilan – telah berhasil berkontribusi pada pemecahan isu global.

“Saya yakin, diplomasi berbasis nilai seperti ini akan tetap relevan di masa datang dan diapresiasi oleh dunia”, tutup Dr. Djumala.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.